MAN JADDA WAJADA
MAN JADDA WAJADA
Sejak duduk di Sekolah Dasar (SD) saya bercita-cita sebagai guru, karena melihat guru begitu sangat penyayang dengan murid-muridnya. Jadi sangat termotivasi ingin menjadi sesosok guru. Setelah lulus SD dan menginjakkan kaki di SMP, ada pengisian biodata. Salah satu isi biodatanya meminta cita-cita. Ya, mengingat waktu SD setiap ditanya oleh guru apa cita citanya Resky? selalu menjawab mau jadi guru bu, yahh jadi untuk saat ini menuliskan cita-cita ke depan menjadi seorang guru.
Seiring berjalannya waktu tak terasa sudah lulus SMP dan mendaftar di tingkat SMA. Lagi-lagi cita-cita yang diminta dalam isi formulir pendaftaran , jadi tetap berpikir ingin jadi seorang guru. Yang membuat tetap memilih menjadi seorang guru teringat kembali waktu SD SMP sampai mendaftar SMA yang selalu ditemui adalah sosok seorang guru, yang selalu setia bersama siswanya. Mengajarkan ilmu yang diketahuinya, dan berkat guru mencetak begitu banyak profesi. Misalnya seorang dokter, polisi, tentara dan profesi yang lainnya. Mereka tidak bisa seperti itu kalau bukan berkat guru yang mengajarkannya dari yang ketidaktahuan menjadi tahu dan yang tahu menjadi begitu sangat mengetahui. Setelah berpikir tentang guru saya menjalani persekolahan di tingkat SMA. Di samping itu juga, memperhatikan cara mengajar guru-guru yang masuk di setiap kelas.
Beberapa tahun kemudian tak
terasa pengumuman kelulusan SMA sudah diemban mata, semua pada sibuk memikirkan
bahkan mengurus pendaftaran kelulusan di universitas, lah saya masih terdiam
bingung mau mendaftar di mana setelah ini? yang terbayang di pikiran mau kuliah
di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar tapi jurusan apa yahh yang pantas
untuk saya? teruss kampus Universitas
Islam Negeri Alauddin Makassar itu bukan Universitas yang daftar langsung lulus,
intinya susah daftarnya kalau potensi yang dimiliki biasa-biasa. Di situlah
saya terdiamkan sambil memikirkan bagaimana bisa lulus di Kampus impian selama
ini. Saat itu berinisiatif untuk mencari info dari senior yang sudah kuliah di
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, bergegas langsung menghubungi salah
satu senior yang bernama kak Ifah di via FB.
“Kak Ifah? Lulus jalur apa kak di Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar?” tanyaku.
“Lulus jalur undangan dek”. Balasan kak Ifah.
“Ooh SNMPTN atau SBMPTN kak?” tanyaku lagi.
“Eeh, bukan dek jalur Undangan khusus Universitas Islam Negeri yang
ada di Indonesia namanya itu jalur SPAN-PTKIN, memang kenapa dek?” balas kak
Ifah.
“Hmmmm Begini kak, mau mendaftar kuliah di Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar tapi masih bingung bagaimana caranya, terus seperti apa itu
jalur SPAN-PTKIN kak?” Balasanku.
“Ee Kalau begitu adek daftar saja jalurnya kakak”. Jawab Kak Ifah.
“Ee bagaimana caranya kak?
Boleh kakak jelasin seperti apa itu?”
“Begini dek caranya itu dengan menghadap ke pak Zul terus bertanya
kepada bapak bahwasanya mau mendaftar jalur SPAN-PTKIN,” jelas kak Ifah.
“oh iya makasih infonya kak”.
Setelah perbincangan tentang
cara mendaftar di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dengan kak Ifah,
di situlah bergegas cepat untuk menjalankan arahan dari senior tadi. Mendatangi
langsung pak Zul di ruangan tata usaha untuk meminta mengikuti jalur
SPAN-PTKIN. Pada waktu itu pak Zul pun memberikan kode pendaftaran jalur
tersebut dan memberikan beberapa arahan tentang pendaftaran jalur undangan.
Setelah itu kembali ke
rumah dan menanyakan kepada orang tua terkhusus kepada ayah karena ingin di
setiap langkah ada restu dari kedua orang tua. Tapi pada saat itu ayah menolak
keras dengan pilihanku. Ayah menyuruh untuk daftar di politeknik kerja sama PLN.
Waktu itu sangatlah
bimbang dan langsung mengatakan kepada
ayah. “kak Rahmat dengan adek sangatlah beda, potensi yang dimilikinya tidak
sama dengan potensi yang adek miliki, ayah. Jadi, kumohon berikan adek
kesempatan untuk memilih sesuai pilihan adek”, pintaku. Waktu itu, ayah terdiam
beberapa detik setelah itu menanggapi apa yang saya pilih. “Begini adek,
misalnya adek kuliah di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar mau ambil jurusan
apa?” tanya ayah. “Justru ini ayah, adek meminta pendapatmu. Apa yang pantas
adek pilih?” tanyaku kembali pada ayah. “Begini adek, kamu senangnya dijurusan
apa?” ujar ayah. “Ayah, adek senangnya jadi guru karena cita-cita dari awal,
ehh dari SD sampai sekarang maunya jadi guru doang ayah”. Ayah pun menjawab,
“kalau begitu adek cari di google jurusan apa saja yang ada di Universitas
Islam Negeri Alauddin Makassar yang pantas untuk adek”. Bergegas cepat membuka
google dan mencari jurusan apa saja yang ada di UIN.
Beberapa menit kemudian muncullah jurusan yang ada di Universitas
Islam Negeri salah satunya ada jurusan PGMI. Menyahutlah ayah, “Kalau begitu
adek pilih jurusan PGMI saja, kan PGMI itu lulusannya S,Pd. dan terkhusus guru
SD”. “Alhamdulillah kalau begitu ayah, adek memilih jurusan PGMI sesuai minat
adek”.
Keesokan harinya, semua siswa kelas 3 sibuk membuka pengumuman
kelulusan. Pada saat itu, saya terdiam saja dan memikirkan kelulusan jalur
undangan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
“Apakah lulus atau?” kataku dalam hati sambil menghayal.
“Hey, Resky?” ujar Hajar sahabatku.
“Iya kenapa beb?” balasku.
“Kamu lulus ya Resky?” tanyanya.
“Belum tahu ini beb Hajar”, jawabku.
“Ya kenapa belum tahu Resky?” tanyanya lagi.
“Saya belum membuka hasilnya beb”, ujarku.
“Kok belum buka Resky? Sini saya bukakan”, ucapnya.
“Ahh gak usah beb nanti di
rumah saja bukanya”.
“Lah kok begitu Resky hari ini lho pengumumannya, apa kamu tidak
penasaran dengan hasil pengumumannya?” Ujar Hajar.
“Ya penasaran sih tapi di buka di rumah saja, saya mau yang liat
langsung adalah keluargaku”.
“Yaa Resky”, ujar hajar.
”Maaf ya Hajar”, ucapku.
“ahh gak papalah beb kalau itu mau kamu ya aku mah fine saja”.
Balasnya.
“Oh yahh kalau begitu aku pulang duluan ya beb Hajar”. “Okelah ya
beb semoga hasilnya sesuai keinginanmu Resky”.
“Oh yaa aamiin beb”, ujarku
Tak lama kemudian tiba di
rumah dengan hati dag dig dug, penasaran banget ya hasilnya ujarku.
“Kak? Laptop mana ? adek mau pakai dulu”. Jawab kakak, “ada di
kamar dek ambil saja di sana”, “Oihya kak, saya langsung bergegas ke kamar
mengambil laptop dan membawanya ke ruang tamu. Sengaja mau buka pengumuman
kelulusan di ruang tamu kebetulan keluargaku doyannya ngumpul di sana. Saya
duduk depan kakak dan membuka link pengumuman jalur undangan, setelah membuka
dan hasilnya “Aaaaaalhamdulillah”, ujarku.
“Kamu kenapa adek?” Kata
kakak.
“Adekmu ini lulus kak sambil mengeluarkan air mata terharu”.
“Ya alhamdulillah ya dek”, kata kakak.
“Ayah ibu anakmu lulus di
Universitas yang adek impikan selama ini”.
Ayah menjawab, “kalau begitu
adek lanjutkan perjuanganmu”.
“Oh ya Ayah? temanin adek ya ngurus pendaftaran ulang di
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, kan adek belum tahu di mana
tempatnya Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar sama belum tahu cara
mendaftar ulang seperti apa”.
“Oh iya nak nanti ayah
temanin”.
Hari esok telah tiba,
“Nak Resky ayo ke Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar urus
pendaftaran ulangmu”, ujar ayah.
“Oh yaa ayah ayo”.
Beberapa menit kami
tiba di kampus, ayah sibuk mengurus apa saja yang dibutuhkan untuk persyaratan
pendaftaran ulang, dan sampai sekarang ini alhamdulillah saya sudah menjalani
semester 3, banyak hal dan cerita pengalaman hidup yang saya dapatkan di sini.
Semoga saya bisa menjalani semester berikutnya, dan lulus sesuai target.
Aamiin, dan setelah kelulusan semoga bisa membagikan ilmu seperti halnya
sesosok guru yang diimpikan. (Resky Amalia dahlan : PC IPM Lempangan)

