Toxic Mind : Lelah Ber-IPM



Perkembangan zaman yang kian dinamis membuat semua orang mestinya adaptif dengan berbagai kemajuan yang ada. Terlebih dengan kehadiran revolusi industri 4.0 yang membuat persaingan dalam berbagai aspek kehidupan kian terasa. Bahkan era digitalalisasi juga menemukan pesatnya berbagai informasi yang beredar di berbagai platform media, tak jarang berdampak buruk bagi generasi muda. Hal tersebut dikarenakan kelompok muda merupakan pemakai teknologi terbanyak dibandingkan dengan rentang usia lainnya.
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sebagai organisasi dakwah di kalangan pelajar telah menisbahkan diri dengan berbagai dinamika eksternal di sekeliling yang terjadi dewasa ini. Tantangan itu kian terasa jika dibenturkan dengan masalah ideologi  pelajar yang kian bergeser karena banyaknya tirani yang menjadi Toxic Mind bagi pelajar dengan pemahaman yang kurang. Untungnya IPM adalah organisasi yang mampu beradaptasi dengan berbagai kemajuan zaman. Terbukti organisasi kelahiran tahun 1961 ini mampu bertahan sampai sekarang. Untuk itu, mobilisasi pelajar ke arah gerakan transformatif mestinya perlu digiatkan untuk menjaga eksistensi persyarikatan.

Menelusuk kekuatan IPM
Berbicara mengenai perilaku adaktif sejumlah organisasi dewasa ini, tentunya pembicaraan selalu mengarah pasal kekuatan yang ada dalam batang tubuh organisasi sehingga keberadaannya maupun kaderisasinya mampu bertahan sampa sekarang. Termasuk di dalamnya IPM yang sampai sekarang mampu mempertahankan kaderisasinya, namun tentunya masih banyak sekali dinamika yang dialami sampai sekarang.
Perjalanan IPM tidaklah senantiasa mulus, namun di tiap era selalu saja masalah ekternal maupun internal yang terjadi. Kendati demikian, semangat juang senantiasa tertanam di benat para kadernya untuk bisa membangkitkan ghirah organisasi IPM di kalangan pelajar. Hal lain yang termasuk kekuatan IPM adalah sistem kaderisasinya yang sangat terstruktur dengan tiap jenjang memiliki pedomannya sendiri. Sistem perkaderan di IPM selalu mengikuti perkembangan zaman, namun tentunya membutuhkan evaluasi di tiap sistem yang menjadi pedoman kaderisasi.
Tak kalah hebatnya dengan sistem administrasi IPM, bahkan di era digitalisasi sekarang muncul terobosan Big Data ala IPM dengan aplikasi My IPM yang menyatukan para kader dan pimpinan di seluruh Indonesia. Bahkan aplikasi ini merupakan salah satu karya besar dari kader IPM itu sendiri. Tentunya ini patut diapresiasi sebagai langkah IPM melangkah maju pada zaman kemajuan teknologi.
Tentunya melihat semua kekuatan besar di tubuh IPM, tentunya kita berpikir mengapa hal tersebut bisa terjadi. Apa resep ala IPM agar hal sebesar itu bisa terealisasi. Jawabannya hanya satu, yakni semangat “Karya Nyata”. Para kader selalu didonktrin untuk memberikan sumbangsih besar bagi organisasimu (IPM).

Karya Nyata”  Sebatas Slogan?
Diksi karya nyata mulai mencuat pada dekade ini, terbukti menjadi potongan kata pada tema Muktamar yang merupakan permusyawaratan tertinggi di IPM. Hal tersebut bukan tanpa alasan, karena 59 tahun IPM terbentuk sudah banyak sekali menunjukkan perannya dalam menghadapai berbagai tantangan zaman. Ditambah IPM secara intens menjadi wadah pengembangan minat bakat pelajar Indonesia. Bisa dibilang, bidang-bidang yang ada di IPM sangat tepat dalam meningkatkan inovasi dan krativitas pelajar, bahkan tidak terkesan ketinggal zaman. Selalu update dan adaktif dengan keadaan sekarang.
IPM dijadikan sebagai rumah besar yang menampung berbagai pelajar yang siap berkontribusi aktif dengan karya-karyanya untuk mewujudkan perubahan sosial yang lebih baik. Karya nyata tersebut terwujud dari sikap IPM yang senantiasa discovery untuk kelembagaan IPM dan para anggotanya. Bahkan selalu diharapkan anggota IPM menjadi penggerak dalam hal strategi dan kebijakan untuk tetap meneguhkan spirit dan tentunya meneguhkan karya nyata.

Berkarya Bersama, Mencerahkan Semesta
IPM merupakan organisasi non-profit di mana para kadernya bergerak dengan penuh kesadaran dan sukarela. Di usia yang sangat matang ini, tentunya kita tak hanya berbicara mengenai keberhasilan IPM dalam berbagai hal.  Tentunya masih ada kekurangan yang ada dalam diri IPM dewasa ini. Hal nyata yang terjadi saat ini adalah permasalahan pada akar persyarikatan, yakni Pimpinan Ranting. Faktor utama sebagian pimpinan ranting tidak aktif karena kurangnya literasi pada pedoman organisasi sehingga kekurangan ghirah dalam membangkitkan ikatan. Padahal pimpinan ranting merupakan ujung tombak dari IPM, karena Pimpinan yang di atasnya semuanya pasti berasal dari Pimpinan Ranting. Jikalau pimpinan paling di bawah bermasalah, entahlah bagaimana kita bisa menjadi visioner lantang untuk bersuara IPM akan tetap berjaya. Permasalahan yang tak kalah pelik yakni bedanya kualitas hasil perkaderan antaran satu pimpinan dengan pimpinan lainnya. Inti permasalahan simple, yakni kurang memahami SPI (Sistem Perkaderan IPM) dengan baik.
Untuk itulah Berkarya bersama merupakan solusi dari tiap permasalahan IPM saat ini. IPM bukan hanya milik segelintir orang, tapi semua orang yang merasa peduli untuk tetap menggerakkan organisasi ini. Berkarya bukan hanya untuk membanggakan diri sendiri, namun bagaimana berkarya yang bisa menyumbangkan ide dan gagasan untuk kepentingan orang banyak. Hal utama yang diyakini bahwa, bahwa kader-kader IPM adalah orang yang berjiwa kreatif dan inovatif. Namun, apakah hanya sebatas itu. Tidak! perlu wadah dan fasilitator agar menghasilkan karya yang lebih terarah. Semesta yang cerah akan terwujud bila kita saling bekerja sama membangun organisasi IPM dengan segala daya yang kita punya. Tentunya kita selalu ingat dengan apa tujuan IPM terbentuk yang termaktub dalam AD/ART Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Masih Mau Bilang Lelah Ber-IPM?
IPM sebagai organisasi dakwah di kalangan pelajar tentunya kita turut berpartisipasi dalam menyiarkan dakwah Islam dan turut pula mewujudkan tujuan Muhammadiyah yakni “......Mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Mengutip dari salah satu ayat Al-Qur’an (47:7), “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Dalam ayat tersebut jelas bahwa dalam hal menolong Agama Allah, maka Allah akan turut menolongnya, bahkan meneguhkan kedudukannya.
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sangatlah kompleks, di dalamnya terdapat bidang kepemimpinan, kesekretariatan, dan keuangan. Bahkan ada pula bidang-bidang khusus yang menangani; Kaderisasi, Kajian Islam, IPTEK, Advokasi Pelajar, Seni, budaya, dan Olahraga, Keperempuanan (Ipmawati), dan Kewirausahaan. Semua bidang itu sangat melekat pada diri seorang pelajar. Jadi kurang apa lagi IPM jika kalian ingin berkarya? Jadikan dirimu berkarya, dan buat dirimu mendunia karena IPM.
Jika ada yang masih bilang lelah atau bosan ber-IPM, mari tunjukkan kepadanya hal-hal positif yang kita dapatkan di IPM. Dengan begitu, akan banyak kader penerus yang akan menjadi generasi emas IPM di masa yang akan datang. Sangat ketinggalan zaman, jika kalian hanya berdiam diri tanpa melakukan aksi positif dan berkumpul bersama dalam hal kebaikan. Jika terbesit dalam pikiran kita untuk berhenti ber-IPM, maka lawan pikiran buruk itu. Itu hanyalah Toxic Mind. Jalani IPM, maka kalian akan rasakan betapa luar biasanya dan berartinya moment ber-IPM. Untuk itu, sudah saatnya IPM menjadi tuan rumah pergerakan dan aspirasi pelajar.                          (Muh. Reza saputra, PC IPM Borimatangksa)

Popular Posts