Kearifan Lokal (Local Wisdom) Literasi Kabupaten Sebagai Basis Komunitas Literasi IPM Gowa

 

Kearifan Lokal (Local Wisdom) Literasi Kabupaten Sebagai Basis Komunitas Literasi IPM Gowa
(Muh. Nur Hadi)

            Berdasarkan survei Program for International Student Assessment  (PISA) pada tahun 2009, dalam bidang literasi, indonesia menempati peringkat ke 57 dengan skor 402 dari 65 negara, hingga tahun 2015, bertambahnya partisipan PISA membuat indonesia turun ke peringkat 61. Saat partisipan PISA menjadi 80 negara, Indonesia menduduki peringkat 741.

Data statistic dari UNESCO tahun 2012 menyebutkan bawhwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001 yang artinya dari 1000 penduduk, hanya 1 penduduk yang memiliki minat baca.

            Sementara itu, data yang dirilis oleh central connecticut state university pada tahun 2016 menyatakan bahwa indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara dalam hal kemampuan literasi. Dari kedua hasil penelitian tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa indonesia sangat kurang dalam hal literasi dikarenakan anak-anak yang berada di pelosok-pelosok indonesia belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Ketersediaan bahan bacaan yang bermutu yang memungkinkan anak-anak indonesia dapat memilih dan memilah bacaan yang diminati.

            Minat baca anak tergolong rendah di kabupaten gowa secara khusus, dikarenakan beberapa factor, yakni pertama, lingkungan keluarga, di tengah kesibukan orang tua, dapat disisihkan beberapa menit untuk bersama anak membaca sehingga memperlihatkan contoh yang baik, kedua, kurikulum dari sekolah yang kurang kondusif untuk memberikan ruang kepada anak untuk membaca, mengkaji serta kurang pemberian motivasi dari tenaga pendidik untuk membaca.

            Pemerintah berusaha meningkatkan minat baca anak dengan melakukan beberapa program strategis yakni Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), serta Gerakan Literasi Bangsa (GLB)2.

            Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menurut (Retnaningdyah, dkk 2016; 2) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. sedangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik (Sutrianto,dkk, 2016: 2).

            Sehingga dapat disimpulkan bahwa Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bahwa anak / siswa menjadi orang yang membudayakan membaca sehingga literature berfikir terbangun dalam berbagai aktivitas.

            Tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan untuk menumbuh kembangkan budaya minat baca di sekolah, menjadikan anak yang melek huruf serta sekolah menjadi taman belajar terbaik, sehingga pada intinya, Gerakan Literasi Sekolah adalah meningkatkan budaya literasi dan melek huruf pada setiap insan.

            Dalam prinsip pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memiliki beberapa prinsip, yakni program literasi berlangsung diseluruh kurikulum karena literasi bukan hanya tentang membaca tapi juga berfikir dan menulis atau menuangkan fikiran kedalam tulisan. Literasi secukupnya namun bermakna, yang berarti bahwa ketika membaca tidak melulu dengan lama nya membaca tapi berkualitasnya waktu yang diluangkan untuk membaca.

            Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dalam buku saku gerakan Literasi Sekolah memiliki beberapa tahapan, mulai dari pertama, tahap pembiasaan penumbuhan minat baca minimal 15 menit, kedua tahap pengembangan dengan cara pengkajian terhadap buku yang telah dibaca, dan ketiga adalah tahap ketiga pembelajaran dengan tidak hanya pada satu minat baca saja tapi secara keseluruhan

            Tahap pembiasaan ini memberikan ruang kepada anak untuk membaca buku yang ia gemaria atau minati, buku yangi dibaca adalah selain buku pelajaran, membaca dengan santai, sesuai dengan kenyamanan mereka, serta tidak terlalu lama sehingga tidak menimbulkan kebosanan saat membaca

            Tahap pengembangan bertujuan untuk mengembangkan minat maupun bakat yang dimiliki sehingga buku bacaan pada tahap ini tidak lagi hanya sekedar dibaca saja, namun di berikan ruang untuk mengkaji sehingga melancarkan dan memahamkan bacaan

            Tahap pembelajaran berfokus pada penguatan minat baca sehingga bukan hanya buku bacaan fiksi / non fiksi  saja yang dibaca, melainkan buku pelajaran pun akan dibiasakan untuk dibaca.

            Melalui tahap pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran diharapkan agar tercipta minat baca yang tinggi hingga anak menjadi melek huruf dan tidak bosan untuk membaca walaupun berjam jam.

            Bukan hanya melalui gerakan di atas yang dilakukan pemerintah, menghadirkan aplikasi yang membantu mencari referensi dari buku yang telah di sedikan aplikasi tersebut, nama aplikasi tersebut adalah iGowa, walaupun masih terbatas buku yang di input dalam aplikasi tersebut, namun pemerintah kabupaten gowa berharap dengan hadirnya aplikasi tersebut memudahkan dalam pembacaan buku.

            Harapan tersebut dilator belakangi oleh gencarnya perkembangan teknologi, banyak orang yang lebih memilih handphone daripada membaca buku secara fisik, sehingga aplikasi tersebut dihadirkan

            Tak sampai 2 program itu saja yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten dalam meningkatkan minat baca atau literasi, program kampung literasi pun di hadirkan sebagai bentuk harapan untuk menjadikan kabupaten sebagai daerah gemar membaca.

            Kampung literasi ini di tempatkan di kecamatan bontonompo sebagai kampong percontohan karena program kampung literasi ini dimulai dari kampun ke kampung hingga masuk ke tatanan pendidikan di kampung tersebut atau masuk ke program sekolah, setelah bergerak dari kampung ke kampung hingga masuk ke sekolah – sekolah, program ini di harapkan sampai pada kecamatan agar seluruh kecamatan yang ada di kabupaten memiliki warga yang buta huruf atau tidak melek huruf menjadi warga yang melek huruf

            Program3 kampung literasi ini dilaunching pada senin 12/12/2016 di kecamatan bontonompo yang pada saat itu dihadiri oleh perwakilah dari kemendikbu, yakni bapak hamka hamzah, program yang sama direncakan oleh kemendikbud untuk mengentaskan buta huruf.

            Dari ketiga hal yang dilakukan oleh pemerintah sendiri membuahkan hasil yang cukup memuaskan, pada 28 November 2017, gowa dinobatkan sebagai pemprakarsa kampung literasi se – Sulawesi.

            Dari pemberian penghargaan, memberikan isyarat kepada warga kabupaten bahwa program – program literasi didukung oleh pemerintah untuk menjadikan kabupaten sebagai kabupaten gemar membaca agar di massifkan gerakannya. Tidak hanya sampai lini anak sekolah saja tapi mencakup warga secara umum.

            Salah4 satu warga di desa kanreapia kecamatan tombolo pao yang menjadi akademis dan penggiat literasi di Provinsi Sulawesi Selatan jua turut mendukung program dari pemerintah dengan mendirikan komunitas rumah Koran, yang bertujuan untuk menurunkan tingkat buta aksara, putusnya pendidikan dan tingkat pernikahan dini anak petani.

            Banyak hal di lakukan oleh komunitas rumah Koran tersebut, seperti belajar membaca, belajar mengaji untuk membantu warga di sekitar rumah Koran tersebut untuk membaca, berfikir dan menulis.

            Tentunya segala hal yang dilakukan kadangkala tidak sesuai dengan harapan, program – program yang dilakukan hanya ber efek kepada mereka yang memiliki minat dalam hal literasi, kurang dari mereka yang tidak memiliki minat dalam hal literasi. Beberapa faktor, yakni:

Pertama5, lingkungan sekitar menjadi salah satu faktor yang sangat mendukung untuk menjadikan minat literasi, lingkungan sekitar menjadi hal yang membangun kebiasaan, sehingga ketika memliki lingkungan yang misalnya pengisian waktu luang dengan cara hang out ke mall, nongkrong di warkop, skating dan lain hal yang tidak memberikan ruang untuk membaca.

Kedua, Generasi pragmatis atau seba instan. Dari generasi baby boomers hingga generasi Z, kita dapat melihat bahwa semakin berkembangnya zaman, generasi semakin menginginkan yang instan atau pragmatis yang tanpa melewati proses yang panjang, padahal dalam hal membaca membutuhkan proses, mulai dari lembar demi lembar, bab demi baba yang sifatnya mesti sistematis

Ketiga, teknologi, gadget kadangkala menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh, teknologi di ibaratkan seperti koin yang memiliki 2 sisi. Positif dan Negatif mesti di perhatikan dengan baik ketika menggunakan teknologi, dapat membaca melalui electronic book, aplikasi yang disediakan, dapat juga teknologi hanya dijadikan pemuas seperti bermain game.

Keempat6, kurangya motivasi, masih banyak yang menganggap bahwa membaca hanya harus dilakukan oleh para akademis sehingga masyarakat secara umum tidak memiliki motivasi yang kuat, sehingga perlu ditanamkan dalam diri bahwa dengan membaca dapat meningkatkan kualitas diri.

            Namun, ke efektifan dari program yang dilakukan  belum mencapai pada harapan yang di inginkan, sehingga pemberian sokongan maupun dorongan kepada anak maupun warga agar bukan hanya aktif mengaktifkan organisasi, tapi juga meningkatkan kemampuan membaca berfikir dan menulis.

            Dibutuhkan wadah yang berfokus pada pemassifan gerakan membaca, komunitas maupun organisasi pun di hadirkan, untuk organisasi yang bergerak di kalangan pelajar pun tak buta melihat keadaan, dengan melahirkannya 4 fokus gerakan, yakni gerakan ekologi, literasi, inklusif dan entrepreneurship.

            Lahirnya gerakan literasi dari salah 4 fokus gerakan IPM secara nasional memberikan isyarat bahwa perlunya peningkatan literasi di kalangan pelajar, dengan membuat komitas literasi diharapkan membantu hal tersebut.

            Dalam hal ini komunitas diperlukan, Komunitas berasal dari bahasa latin yakni communitas yang berarti kesamaan. Komunitas adalah sekelompok makhluk sosial dari lingkungan yang berbeda – beda, dengan kesukaan yang sama, sehingga komunitas di artikan sebagai sekelompok orang yang memiliki kesukaan yang sama.

Komunitas literasi hingga saat ini masih menjadi instrumen penting dalam misi besar: menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia. Konsep yang lebih fleksibel, dan jangkauannya yang mencapai pelosok membuat komunitas membantu betul kerja-kerja literasi. Peran tersebut makin nyata, setelah perpustakaan besutan pemerintah yang lumrah dibangun di sekolah, pusat kota, ataupun kampus-kampus, gagal menampilkan wajah perpustakaan yang menyenangkan. Ke perpustakaan orang jadi tegang, alih-alih senang.

Perpustakaan yang dikesankan demikian, membuat banyak orang ogah-ogahan datang membaca buku. Perpusda lantas mirip sanggar yoga yang sunyi. Perpustakan kampus juga bernasib serupa. Paling hanya anak skripsian yang mendatangi perpustakaan. Itupun karena menjelang wisuda harus mengurus kartu bebas (pinjam buku) perpus.

Kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah tak kalah mencemaskan. Selain koleksi bukunya yang itu-itu saja, minimnya sosialisasi membuat ke perpus sama dengan ke WC belakang sekolah. Takut.

Kegagalan pemerintah—dengan jejaring perpustakaannya—itu, terabadikan dengan prestasi Indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei minat bacanya. Tentu saja dalam kait kelindan permasalahan literasi Indonesia, tanggungjawab tidak hanya ditujukan pada pemerintah semata. Ada begitu rupa stakeholder dengan dosanya masing-masing yang perlu segera berbenah.

Minat7 baca yang sedemikian jeblok memang membuat beberapa instansi tergerak. Mulai dari POS Indonesia yang menggratiskan pengiriman buku di tanggal-tanggal tertentu, PNRI yang menyalurkan donasi buku, tumbuhnya sanggar baca bak jerawat di musim nikah, hingga program desa binaan ala-ala BEM di kampus-kampus pun menyasar program pengadaan perpustakaan desa. Dalam hal ini, KKN termasuk, tentu saja.

Semuanya bergerak. Itu bagus. Tapi tetap saja, pertanyaan tentang bagaimana cara menumbuhkan minat baca masih menjadi PR bersama. Hanya saja, sialnya, PR bersama itu selalu dicoba selesaikan dengan sendiri-sendiri sehingga tak kunjung selesai. Pemerintah bikin program sendiri, komunitas bikin acara sendiri.

Pendirian komunitas menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan minat baca, juga komunitas sebagai wadah untuk membuka jendela dunia, “jika uang tak sanggup membuatmu untuk membuka jendela dunia, maka membaca lah karena dengan membaca pikiran mu akan berkeliling dunia”.

Daftar Pustaka

1.        Putra MADR. Krisis Literasi: Penyebab, Dampak dan Solusi? | The Columnist. Accessed April 14, 2021. https://thecolumnist.id/artikel/krisis-literasi-penyebab-dampak-dan-solusi-1153

2.        Menengah DJP dan, Kebudayaan KP dan. Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah. Vol 4.; 1392.

3.        Dhyni. Sekda Launching Kampung Literasi di Gowa -. Published December 13, 2016. Accessed April 14, 2021. https://humas.gowakab.go.id/sekda-launching-kampung-literasi-di-gowa/

4.        Aksara. Literasi di Pedesaan Hadapi Kendala dan Masalah. Published 2019. Accessed April 14, 2021. https://www.askara.co/read/2019/11/08/81/literasi-di-pedesaan-hadapi-kendala-dan-masalah

5.        Fransisca Desfourina. 5 Penyebab Kurangnya Minat Baca Di Indonesia. Accessed April 14, 2021. https://www.gramedia.com/blog/5-penyebab-kurangnya-minat-baca-di-indonesia/#gref

6.        BIMBA. Faktor Penyebab Rendahnya Minat Baca pada Remaja dan Anak. Published June 8, 2016. Accessed April 14, 2021. https://bimba-aiueo.com/penyebab-rendahnya-minat-baca/

7.        Fajar. Komunitas Literasi, Minat Baca, dan Kenapa Pustaka Warga. Published 2017. Accessed April 14, 2021. https://www.esensiana.com/komunitas-literasi-minat-bacadan-kenapa-pustaka-warga/

 

Popular Posts