Dopamine Detox: Tantangan dan Solusi Candu Internet?

 

Dopamine Detox: Tantangan dan
Solusi Candu Internet?

Hadirnya teknologi Internet pada hari ini sangat mempengaruhi banyak aspek kehidupan umat manusia. Komunikasi, akses informasi, pekerjaan profesi yang lebih praktis, sampai beragam macam hiburan bisa kita dapatkan dengan mengakses internet. Akan tetapi disamping banyaknya dampak positif internet yang kian mempermudah segala aspek kehidupan, beragam dampak negatif juga mengikuti perkembangan internet.

            Akses untuk mendapatkan kesenangan instan, pemenuh hasrat, pembunuh waktu. Setiap kali kita membanjiri otak kita dengan dopamine, dengan bermain game, scrolling sosial media, browsing tanpa tujuan yang jelas, bahkan sampai pornografi. Berjam-jam bermain game tak terasa lama, tapi belajar 10 menit langsung sakit kepala. Teknologi internet yang digunakan secara salah bukan hanya menghabiskan waktu dengan percuma, melainkan juga dapat merusak otak kita. Kita jadi pemalas luar biasa, cepat bosan, tak fokus, dan sibuk padahal tidak penting.

            Salah satu solusi sekaligus tantangan untuk mengatasi kecanduan eskapisme internet adalah dengan melakukan Dopamine Detox. Dopamin adalah senyawa kimia (neurotransmitter) dan hormon di tubuh yang berkaitan dengan rasa bahagia dan kesenangan diri. Dopamin dijuluki sebagai happy hormones atau hormon kebahagiaan, karena memengaruhi kesenangan yang kita rasakan. Kadar dopamin yang diperoleh dari sosial media, game, film, musik bahkan pornografi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar dopamin yang diperoleh dari aktivitas produktif seperti belajar, olahraga, bersosialisasi dsb.

            Jika kita terbiasa dengan dopamin berkadar tinggi, kita akan merasa enggan melakukan aktifitas berat namun hanya menghasilkan sedikit dopamin. Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menerapkan puasa hiburan atau bahasa kerennya yaitu Dopamin Detox. Upaya ini bisa dimulai dengan cara tidak melakukan aktifitas yang menyenangkan, seperti menggunakan internet, mendengarkan musik, dan menonton pornografi. Kegiatan-kegiatan tersebut kita ganti dengan aktifitas yang produktif, seperti belajar, berolahraga, membaca buku, dan bersosialiasi dengan orang lain. Aktifitas-aktifitas tersebut juga dapat menghasilkan dopamin, namun jauh lebih sehat dan produktif.

            Walaupun kita harus puasa dari beberapa media teknologi internet tadi, bukan berarti kita tidak boleh menggunakannya sama sekali. Kita tetap boleh menggunakan media internet sebagai sarana komunikasi seperti Whatsapp dan media lainnya untuk menunjang produktifitas. Kita bisa melakukan Dopamine Detox secara bertahap, menargetkan waktu berapa lama kita akan melakukannya. Kemudian rasakan perbedaan sebelum dan sesudah menerapkan Dopamine Detox dan mengevaluasi apakah kita sudah berhasil melakukannya atau malah gagal di tengah jalan.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba? Semoga berhasil. (Muh. Rijal : PC IPM Pallangga)

DAFTAR PUSTAKA

Tirto.id. (2021, 19 September). Apa Dampak Positif dan Negatif dari Penggunaan Internet?. Diakses pada 21 Oktober 2021, dari https://tirto.id/apa-dampak-positif-dan-negatif-dari-penggunaan-internet-gfZs

Sehatq.com. (2019, 21 Desember). Berkenalan dengan Hormon Dopamin, Sang Senyawa Kebahagiaan Otak. Diakses pada 21 Oktober 2021, dari https://www.sehatq.com/artikel/dopamin-adalah-senyawa-kebahagiaan-otak-bagaimana-meningkatkannya

Kumparan.com. (2020, 05 September). Reset Otak agar Lebih Produktif melalui Dopamine Detox. Diakses pada 21 Oktober 2021, dari https://kumparan.com/tokyorio/reset-otak-agar-lebih-produktif-melalui-dopamine-detox-1u8fglXcYiA/full

Astono, R. [Rianto Astono]. (2020, Juli 13). DOPAMINE DETOX-RESET OTAK [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=kO622GyHa28

Popular Posts