SUPREMASI ISLAM
SUPREMASI ISLAM
Apakah sebelumnya pembaca pernah mendengar atau membaca tentang apa itu supremasi, maka sedikit literatur mengenai supremasi, Hornby. A.S (1997: 869) mengemukakan bahwa secara etimologi, kata “supremasi” yang diambil dari kata supremacy yang diambil dari akar kata sifat supreme, yang berarti “Higest in degree or higest rank” artinya berada pada tingkatan tertinggi atau peringkat tertinggi, sedangkan Supremacy berarti “Higest of Authority” artinya kekuasaan tertinggi. sedangkan islam merupakan ajaran agama yang di bawah oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna dari semua ajaran yang dibawah oleh Nabi-nabi sebelumnya. Kita sebagai umat muslim meyakini itu bahwa agama islam adalah agama yang paling sempurna serta kitab yang di wahyukan kepada nabi Muhammad SAW yakni Al-Quran sebagai Petunjuk bagi Umat Manusia terkhusus Umat Islam untuk merespon kehidupan dunia secara universal untuk menemukan pola-pola pengaplikasian pada ruang dan waktu, sehingga manusia bisa menemukan jalan yang benar dalam memandang dunia ini sebagai titik tolak dalam membangun peradaban dan kebudayaan. Supremasi islam terletak pada kekuasaan Allah SWT. Maka tidak ada salahnya Umat muslim meyakini bahwa islam adalah agama yang paling baik diantara agama-agama yang ada.
Pada zaman sekarang ini banyak kelompok-kelompok atau Individu yang memang anti islam salah satu contohnya di Eropa ada namanya islamofobia, kelompok ini bahkan diakui negara sebagai kebebasan berekspresi terbukti Abdallah Zekri, Presiden Lembaga Pengawas Nasional Islamofobia mengatakan, pada 2019, serangan Islamofobia di Prancis naik hingga 54 persen. Berdasarkan data pada 2018, terjadi sekitar 100 serangan terhadap umat Muslim di Prancis dan setahun kemudian, meningkat menjadi 154 kasus. Banyak pula melabeli Islam sebagai agama yang tidak Toleransi bahkan mencaci maki (bully) islam sebagai agama yang penuh ketidak adilan, teroris, korupsi, diskriminasi bahkan di katakan sebagai penjahat dalam bidang sosial, ekonomi, politik bahkan hukum, begitu kejam cacian mereka terhadap islam. Apakah mereka tidak melihat atau pura-pura buta dalam melihat kedamaian agama islam sebagai rahmatan lil alamin (Rahmat bagi seluruh alam semesta), agama yang penuh dengan keadilan, penuh dengan toleransi apatah lagi bukti toleransi yang di jalankan dalam firman Allah dalam surah al-kafirun ayat 6 “untukmu agamamu, untukku agamaku” dalam artian bahwa “untukmu agamamu” menandakan bahwa aku tidak akan mengganggumu dalam menganut agamamu sebagai penghormatan atas keyakinan itu dan “untukku agamaku” dalam artian islam saja tidak akan mengganggumu dalam beragama, begitu juga agama lain tidak berhak mencampuri islam dalam hal beribadah dll. Adapun contoh kesederajatan yang di ajarkan islam bahwa semua manusia sama ketika melakukan ibadah sholat yang ketika bersujud mereka akan sama rata mulai dari tukang ojek, pedagang bahkan sampai presidenpun.
Namun, Tentu penganut agama lainpun meyakini bahwa agama merekalah yang paling baik diantara agama lain, tentu tidak salah juga mereka beranggaparn seperti itu sepanjang mereka tidak melakukan tindakan yang ekstrim apalagi sampai anarkis atau melakukan tindakan represif terhadap agama lain. Namun keunggulan agama islam terhadap agama lain tentu sudah ada dalam al-quran. Akan tetapi walaupun begitu islam tidak akan menjadi agama yang dianut oleh seluruh umat manusia, Nabi Muhammad SAW saja melakukan dakwahnya selama puluhan tahun namun masih ada paman-pamannnya yang tidak masuk islam, salah satunya Abu Thalib walaupun begitu dia tetap menyayangi dan melindungi Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan Abu Jahal & Abu Lahab yang justru memusuhi nabi bahkan menghalangi kerja-kerja dakwah Nabi Muhammad. Disini kita bisa lihat bahwa keluarga nabi sendiripun ada yang tidak menerima ajaran yang dibawah Nabi Muhammad SAW, apatah lagi masyarakat biasa yang tidak dekat dengan Nabi.
Melihat kondisi itu menandakan bahwa tingkat kesempurnaan ajaran agama bukan menjadi standar atau tolak ukur seseorang masuk islam melainkan juga hidayah dari Alllah SWT. Disini pula bisa kita lihat supremasi hukum (islam) tentang kekuasaan Allah dalam menentukan takdir seseorang sebagai pemegang otoritas tertinggi. Namun yang menjadi pertanyaan apakah ketika seluruh umat manusia ketika memeluk ajaran agama Islam akan betul-betul mengikuti apa yang di ajarkan nabi dalam menjalani hidup ini? Ketika allah menghendaki semua bisa terjadi tapi kembali lagi pada siapa allah memberikan hidayah dan siapa yang peka terhadap hidayah itu. Di zaman sekarang pun kita bisa liat bersama bahkan di sekeliling kita tidak semua orang mengikuti (amalkan) apa yang diajarkan nabi kita. Namun tugas kita sebagai umat muslim untuk melanjutkan dakwah agar islam ini tetap ada dan terus berkembang tentu dengan cara-cara yang santun. Semoga kita semua tetap istiqomah dalam menjalani hidup ini dengan selalu berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Muh. Nasrul Khair (Kabid PKK IPM Gowa)


