TOREH KARYA UNTUK IPM
Ikatan
pelajar muhammadiyah sudah di kenal sebagai kader penopang bangsa Indonesia
yang banyak menorehkan karya bagi ikatan itu sendiri maupun untuk negara
tercinta yaitu Indonesia. Melirik secara historicial fact, IPM menjadi indikator dalam
membantu pengembangan muhammadiyah terutama di kalangan pelajar.
Misi IPM
pun sangat mempunyai nilai positif dalam
memberikan pemahaman bagi kaum pelajar, hal itu sangat penting demi terwujudnya maksud dan tujuan IPM. Karena untuk mencetak kader yang paripurna,
pasti diperlukan didikan yang baik,
disinilah dibutuhkan peran orang
tua dalam memberikan edukasi kepada anak.
Orang tua harus cerdas dan selektif dalam memberikan
sekolah untuk ananknya. Terkadang orang tua hanya sebatas menyekolahkan
anaknya dan seakan-akan sudah tidak mempunyai tanggung
jawab lagi terhadap anaknya, padahal orang tuanya belum tentu tahu kondisi
sekolah itu seperti apa, pergaulannya bagaimana, serta karakter temannya baik
atau tidak. Bukankah semua itu akan berpengaruh pada anak sendiri?.
Itu
semua perlu kita ketahui dalam terjaganya pendidikan anak. Sebab kondisi anak
masi sangat minim jikalau dibiarkan begitu saja
dan itu akan berpengaruh pada pertumbuhannya. Sedangkan anak yang
memiliki asupan yang baik tentu akan terlihat berbeda, bahkan sikap dan karakternya.
Dan itu menjadi pilihan bagi para orang tua.
Disinilah Nabi SAW menegaskan dalam sebuah hadistnya
yang artinya : ”Setiap anak yang dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang
tuanyalah yang menjadikannya Yahudi,
Majusi, Nasrani”(HR Bukhari). Tentunya kita paham bahwa hadist diatas
memberikan pesan yang sangat tegas bagi para orang tua, karena orang tua bisa
menjadi sumbatan ketika anak sudah mulai berkarya, sedangkan lingkungan yang
dipilihkan orang tuanya sungguh tidak kondusif.
Tentunya
para orang tua ingin anaknya menjadi yang diharapkan, bahkan bisa berbakti pada
orang tuanya sekaligus memberikan karya untuk bangsa Indonesia pastinya.
Ketahuilah bahwa Anak yang terlahir kemuka bumi memiliki FREEWILL masing–masing, kita bebas untuk
berkehendak dan itu dijamin oleh UUD. Maka disinilah pilihan ada pada seorang
anak, apakah ia ingin menjadi seorang pemain atau seorang penonton? Dan itu akan
menjadi sebuah masalah ketika ia salah dalam memilih.
Disinilah
IPM dibutuhkan dan demi mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW.
Kehadiran IPM menjadi sumber pencerahan bagi kaum pelajar yang masih awam
terhadap pemahaman agamanya sendiri. Tidak sampai disini, IPM menumbuhkan
kesadaran untuk membaca buku, untuk memperkenalkan problem-problem global
yang mampu membuat para anak berfikir
lebih dewasa dan lebih mengenal dirinya.
Saya
teringat perkataan Ir. Soekarno beliau pernah berkata “Jangan pernah engkau
meninggal sebelum berkarya!” mungkin kata-kata ini begitu singkat, tetapi ia
mampu mempertemukan bara dengan api sehingga
dapat membakar semangat
para pelajar yang mempersiapkan dirinya dari sekarang. Jangan percaya
pada kata terlambat.!
Dalam
meraih itu semua maka di perlukan
seorang motivator yang perkasa, dan saya akan menyebut dia adalah Tuhan.
Dialah sang motivator yang punya segalanya, dari besar apalagi yang kecil.
Maka ketika seseorang menghadirkan Tuhan dalam dirinya. Maka yang terjadi
adalah keterjagaan (saling menjaga), sebab
ada rasa cinta yang tertanam antara hamba dengan
Tuhan.
Inilah
yang menjadi problem IPM sekarang ini.
Terkadang kita hanya memperkenalkan bagaimana cara wudhu, sholat, akhlak dan
sebagainya. Kemudian lupa cara mengenal
Tuhan secara mahabbah, yang melahirkan cinta kepada seseorang untuk Tuhannya.
Hal itu akan menjadi penting bagi saya, karena banyak orang yang mengenal Tuhan
tetapi masih melakukan kekerasan, narkoba korupsi keadilan yang tumpul kemudian melahirkan konflik.
Apakah
itu esensi dari ajaran Islam? Sama sekali bukan. Islam tidak pernah mengajarkan
kekerasan, narkoba, korupsi dan berlaku tidak adil. Tetapi saya heran, kenapa
kebanyakan yang melakukan semua itu dia mengaku dirinya islam, tapi melakukan
perbuatan yang islam sendiri tidak ajarkan sama sekali, dari mana dia dapatkan
perbuatan semacam itu.?
Padahal
jika kita mengetahui substansi dari
mahabbah, itu bukan hanya sekedar cinta tetapi juga kasih sayang yang mendalam. Bagaimana mungkin
seseorang yang dicintai akan kita sakiti perasaannya, begitupun dengan Tuhan,
pasti kita akan merasa malu apabila melakukan sesuatu yang tidak di sukai oleh
Tuhan.
Banyak
sekali permasalahan yang sangat merindukan sesosok kader untuk
menyelesaikannya, dengan jiwa yang jujur, hati yang bersih dan intelektual yang
tinggi dan itu semua harus dimiliki oleh semua para kader IPM.
(Muh. Haryandika, PD IPM Mamuju)



