Tanggung Jawab Dalam Berorganisasi
IPM
adalah sebuah organisasi Muhammadiyah dikalangan remaja. Berakidah dan
bersumber pada Al-qur’an dan Al-sunnah.
Menurut
saya, IPM adalah sarana atau tempat dari sekumpulan pelajar Muhammadiyah yang
memiliki tujuan yakni melahirkan kader yang berakhlak mulia. IPM juga suatu
tempat untuk kita menunjukkan bakat dalam berorganisasi sebagai bekal
organisasi sesungguhnya yang nanti akan dihadapi diluar sekolah. luasnya
jangkauan IPM juga menjadi suatu kelebihan organisasi ini.
Seperti
sebuah organisasi pada umumnya, IPM juga memerlukan anggota yang bertanggung
jawab atas pilihan berorganisasi. Namun, perkara tanggung jawab kadang
disepelekan sebab hawa nafsu yang lahir dari bisikan-bisikan yang mengarah pada
keburukan--hal yang kurang bermanfaat bila dibandingkan dengan berorganisasi.
Padahal
seharusnya, sebelum kita mengambil keputusan untuk andil dalam sebuah
organisasi, mestinya hal yang paling menjadi pertimbangan adalah ‘Tanggung
Jawab’ kita--Sebuah kesadaran diri atas suatu perbuatan atau keputusan.
Sehingga kalimat keluh bahkan penyesalan
tidak akan pernah keluar dari bibir anggota.
Berani
ikut, maka berani pikul tanggung jawab. IPM bukan tempat untuk mengharumkan
nama anggota sebagai pengurus yang berbudi, yang pandai dalam hal religi, atau
mungkin yang sering dipuji, bukan! IPM bukan wadah yang begitu. IPM adalah
ikatan suci yang didasari janji demi kader yang berbudi. Berjuang itu segera,
bukan “nanti saja” atau “biar yang lain saja”
Bila
sudah mengerti perihal janji adalah hutang, maka seharusnya sudah paham juga
bila menunaikan adalah tugas yang utama. Jika dirasa tidak mampu, jangan
sesekali berurusan dengan janji. Ya… walaupun mungkin diantara persekian
anggota ada yang hanya mencoba berorganisasi, yang awalnya bimbang tapi
diyakini oleh anggota yang lain, “kenapa
nggak mencoba dulu? Coba aja dulu, baru bilang nggak mampu” arrgg bujuk rayu
mulut siapa itu!!..
Tak
ada salahnya memang mengajak orang lain untuk ikut bergabung. Tapi jangan
terlalu membujuk seakan-akan berorganisasi adalah hal mudah yang bila dicoba
sekali akan menemukan titik jatuh cinta. Ah iya, perihal jatuh cinta! Sedikit
cerita, dulu ada teman saya yang bingung dimana letak jatuh cinta Dia di IPM.
Sebab dulu teman saya itu juga mencoba. Mencoba untuk berorganisasi. Mungkin
IPM adalah organisasi pertama kali yang Dia ikuti, karena benar-benar se-nggak pernah itu Dia andil dalam
organisasi.
Dan
ketika waktu berjalan, kumpulan pun mulai menyerangnya. Kajian mulai
menghalangi rutinitas main teman saya. Akibatnya yaa… dia bosan, dia malas, dia
nggak senang memikul tanggung jawab, dan dia menyadari bahwa sebenarnya dia
tidak benar-benar siap untuk menghadapi resiko. Walaupun tidak bisa dipungkiri
bahwa hidup adalah tentang berani mengambil resiko, juga tidak bisa dipungkiri
bahwa pundak tidak pernah kosong dari pikulan tanggung jawab. Pundak selalu
diisi dengan rentetan tanggung jawab yang bergilir, yang lahirnya bukan lain
dari keberanian untuk mengambil resiko.
Sampai
suatu ketika, dia menyerah. Ia benar-benar ingin lepas dari tanggung jawabnya.
Tapi, semesta seakan menolak keinginannya untuk lepas dari ikatan pertamanya
itu. Ia mencoba untuk mengikuti berbagai macam kompetisi online maupun ofline
yang diselenggarakan dari berbagai tingkat IPM. Bayangkan, hari ini ia ingin
lepas, tapi esoknya pengumuman menariknya untuk kembali, ia menang dalam
berbagai kompetisi. Yaa… meskipun tak melulu juara pertama. Tapi menurutku itu
hebat. Dan tidak bisa dibohongi bahwa IPM berhasil membuatnya jatuh cinta.
Teman saya mencoba lagi dan menemukan titik dimana ia merasa tanggung jawab
bukan paksaan berat. Ia berhasil jatuh cinta dengan ikatanya, ikatan kita.
Itu
sebabnya, dalam kesempatan menulis opini untuk IPM kali ini, saya membahas soal
tanggung jawab. Sebab, perkara itulah yang sudah mulai pudar di batin anggota.
Dan
untuk kalian, para kader yang memikul keharusan, jangan pernah hilangkan
kewajiban. Sebab tujuan tetap tujuan. Jangan sampai harapan mati ditelan
keegoisan. Berhenti di tengah jalan tak akan melahirkan kesan. Jadi, kuharap
kalian mengerti, bahwa tujuan tetaplah tujuan, lepas bukan jalan keluar. (Putri Adela, PR IPM SMK Muhammadiyah 1 Piriengsewu, Lampung)


