Semangat Dan Kenyakinan Untuk Menorehkan Suatu Karya

Kata sastra dahulu ditulis sastera, tetapi seiring perkembangan bahasa kemudian ditulis sastra. Kata sastra berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu dari akar kata cas dan tambahan -tra. Kata cas artinya ‘mengajar', sedangkan akhiran -tra artinya ‘alat'. Jadi, castra artinya ‘alat untuk mengajar'
Karya sastra sendiri merupakan potret sosial,artinya suatu karya yang terbentuk diangkat dari realitas masyarakat yang pernah terjadi dan disajikan kembali dalam bentuk tulisan. Hal ini memberikan bukti bahwa suatu karya sastra tidak lahir dari kekosongan semata, melainkan berangkat dari refleksi kehidupan sehari-hari. Melalui fenomena sosial yang dibawa ke dalam sebuah tulisan serta bagaimana disajikan lewat opini yang tidak biasa menunjukkan bahwa karya sastra tidak lepas dari ideologi pengarangnya.
Di tengah berkembangnya zaman, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi semakin pesat. Tidak bisa dipungkiri lagi jika saat ini media menjadi sebuah ruang bagi setiap orang untuk berekspresi dan menyampaikan aspirasi. Dalam ranah sastra sendiri, hal tersebut dapat dijadikan sebagai alat pembentukan ideologi di tengah masyarakat yang semakin kecanduan gawai terutama dalam penggunaan media sosial.
Seorang sastrawan melalui kreativitasnya dapat menghasilkan sebuah karya yang disadari atau tanpa disadari akan membawa pengaruh kuat bagi pembacanya. Manusia memang memiliki pandangan masing-masing terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.Namun,sebagaimana yang kita ketahui media sosial sudah mengambil peranan penting sebagai penyalur ideologi pengarang kepada masyarakat.
Dalam teori-teori kontemporer ideologi dimanfaatkan dalam berbagai kajian ilmu dengan defenisi yang berbeda-beda. Pada umumnya defenisi tersebut meliputi (a) ilmu pengetahuan mengenai cita-cita, (b) cara berpikir seseorang dan kelompok, (c) paham yang dikaitkan dengan kelompok tertentu
Berdasarkan pernyataan di atas menunjukkan bahwa melalui tulisan yang selaras dengan intelektualitas pengarang menjadi salah satu faktor pendorong terbentuknya pola pikir masyarakat. Namun, di sisi lain kondisi yang memprihatinkan di tengah perkembangan sastra di media sosial yaitu soal kecenderungan sebagian orang yang hanya membaca judul artikel, esai atau sejenisnya sebagai akses utama memperoleh sumber informasi.
Sebuah percobaan yang dilakukan Josh Schwartz dari firma analisis lalu-lintas internet bernama Charbeat dengan salah satu media online bernama Slate mendapati temuan yang tak jauh berbeda. Semakin panjang sebuah artikel  semakin mungkin artikel tersebut tidak dibaca utuh alias ditinggalkan oleh pembacanya.
Hal tersebut tentu dapat menjelaskan di mana angka melek huruf yang tinggi seperti di Indonesia belum mampu menjamin tingginya budaya melek baca masyarakatnya. Akibatnya,masyarakat sering terjebak pada sentimen kelompok tertentu dan sulit berpemikiran terbuka terhadap  hal-hal baru.
Lantas, apakah yang menyebabkan rendahnya angka melek baca masyarakat kita? Kita sering mendengar bahwa kebiasaan membaca merupakan hobi, bukan? Tentu hal itu merupakan paradigma yang disalah gunakan. Membaca haruslah menjadi kebutuhan setiap orang bukan dianggap hal sepele dan hanya hobi sebagian orang saja. Zaman yang semakin maju di era digital ini menuntut kita semakin cerdas dan terbuka. Oleh sebab itu, banyak sastrawan dan akademisi mempromosikan literasi digital yang sudah melekat di kehidupan masyarakat.
Karena itu, sudah selayaknya kita menggenjot kebiasaan membaca dari sudut pandang kebutuhan manusia. Jangan menjadi masyarakat pembaca judul semata. Semakin sering kita membaca, semakin mudah kita memaknai sebuah gagasan yang dituangkan oleh pengarang. Maksud pengarang pun akan tersampaikan dengan baik.
  Perkembangan inovasi dan pola kita  yang kian maju dan peningkatan kesejahteraan adalah dambaan semua ipm di seluruh daerah maupun  keinginan masyarakat untuk ipm hadir didalamnya , namun keinginan bukanlah menjadi tolak ukur tentunya yang harus diutamakan adalah kebutuhan bukan hanya keinginan , jadi perkembangan inovas bukanlah hanya retorika tapi segala terwujud dalam realita yang nyata sudah , walaupun pencapaian semua itu belum terwujud namun terus berjalan secara berkesinambungan dan berkelanjutan .
Dengan berumur 59  tahun, mengambil tema 'Berkarya bersama, Mencerahkan semesta dengan tersebut  kita wujudkan IPM sebagai indikator tang berperan bagi agama, nusa dan bangsa dengan keseriusan dalam berkarya untuk mewujudkan dunia penuh karya karya dan menjadi cerah alam semesta dengan karya - karya yang kita buat dan kita peroleh. Berbagai inovasi direalisasikan dengan bersama-sama IPM melakukan perkembangan inovasi dan ada untuk masyarakat  yang merata dan berkelanjutan.
Sektor pendidikan; di sektor pendidikan kita telah menerapkan berbagai inovasi untuk menjadikan pelajar yang mampu akan memeperoleh ilmu yang lebih baik dan terarah, berbagai kegiatan dan program kita lakukan untuk memajukan pendidikan indonesia dan dengan inovasi kita buatc, kita menginginkan untuk menjadi pelajar yang lebih berguna dan menjadi pelajar yang luar biasa. Ini beberapa program untuk mewujudkan suatu karya;
  1. Fokus dan Jadilah Seorang Ekspert
Menciptakan karya akan menjadi sangat mudah jika kita adalah seorang ekspert. Seorang ekspert atau ahli tidak hanya ditentukan dari berapa lama pengalamannya, tetapi berapa pesat kemajuannya untuk berkembang. Berpengalaman 10 tahun, belum tentu memiliki ketrampilan selama 10 tahun. Bisa saja hanya pengalaman 1 tahun yang diulang 9 tahun berikutnya. Berbeda dengan seorang ekspert. Seorang ekspert adalah mereka yang senantiasa belajar dan berlatih secara fokus. Jika mengutip istilah dalam buku outliers, untuk menjadi seorang ekspert Anda membutuhkan belajar atau latihan yang sistematis dan berjenjang selama 10.000 jam. Jika Anda menjadi seorang ekspert, maka karya-karya besar akan mudah mengalir dari tangan-tangan Anda. Begitu pun kita di ipm harus menjadi orang yang berguna dengan karya karya kita salah satunya dengan karya tulis untuk mengembangkan literasi kita dan menjadi seorang penulis yang berguna
2. Menciptakan Karya adalah Bentuk Rasa Syukur
Coba lihat lebih dalam diri Anda. Anda memiliki segala macam potensi yang dahsyatnya tidak kalah dengan kedahsyatan alam semesta. Untuk bisa memberikan karya yang terbaik, kita harus ingat bahwa memberikan karya terbaik merupakan bentuk syukur terhadap potensi yang dimiliki. Jika saat ini karya kita masih sedikit atau bahkan belum ada sama sekali, maka apa yang sebenarnya kita lakukan di dunia ini? Apa tujuan hidup kita di dunia? Apakah iya Allah menciptakan manusia tanpa tujuan? Bukankah Allah menciptakan manusia untuk beribadah dan menebarkan manfaat bagi sesamanya? Dengan cara apa? Ciptakan karya Anda! Dan dengan tema milad ipm kali ini , kita juga harus menjadi orang yang berkarya bukan hanya orang yang memperhatikan karya tapi kita juga harus pembuat karya
3. Jika Anda Meninggal, Karya Apa yang Akan Diingat Orang?
Kapan waktu yang memang benar-benar tepat untuk pensiun? Yap, jika memang kita sudah dipanggil oleh yang kuasa. Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat fundamental. Jika Anda meninggal dunia, kira-kira orang akan mengingat Anda seperti apa? Karya apa yang akan diingat oleh orang lain? Jangan-jangan justru karya yang negatif? Mudah-mudahan tidak. Inilah mengapa Rasulullah saw bersabda bahwa mereka yang cerdas adalah mereka yang senantiasa mengingat mati. Kenapa? Karena dengan mengingat mati itulah seorang akan terus terpacu untuk memberikan yang terbaik dalam hidupnya. Tidak ada yang tahu kapan kita benar-benar dipanggil untuk berhenti berkarya, jadi kenapa tidak memberikan yang terbaik selagi masih bisa?
4. Gerakan Satu Jiwa Seribu Karya
Kalau kita bicara tentang Indonesia, dari berita-berita di televisi atau media massa bandingkan berapa banyak berita negatif berbanding dengan karya positif yang dihasilkan anak bangsa? Saya pernah mencoba menghitungnya dan hasilnya adalah 9:1, di mana setiap 9 berita negatif yang keluar, hanya ada 1 kabar positif yang memotivasi penontonnya. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa tapi cobalah berorientasi karya. Gerakan satu jiwa seribu karya adalah salah satu upayanya. Buatlah sebuah mahakarya terbaik dari Anda, di mana karya tersebut kemudian akan menginspirasi yang lain untuk berkarya pula. Persis kerjanya seperti virus. Bayangkan, jika Anda dapat membuat karya-karya hebat dan brilian sepanjang hidup Anda, berapa orang Indonesia yang akhirnya tergerak untuk mengikuti jejak Anda? Maka selamat tinggal berita-berita negatif, dan selamat datang Indonesia berkarya! 🙂 Kalau satu jiwa seperti Anda bisa menghasilkan seribu karya, mengapa hanya menciptakan satu?
5. Kalau Bisa Lebih Baik, Kenapa Tidak?
Berdasarkan pengalaman saya dalam bisnis dan dunia konsultasi, ada sebuah kesimpulan yang unik dan menarik tentang karya. Cobalah Anda membuat karya Anda sesuai standar untuk memenuhi tuntutan yang diberikan kepada Anda. Apa yang terjadi? Karya Anda akan dianggap karya yang biasa, tidak istimewa, karena memang sesuai dengan ekspektasi. Berlaku secara linier. Tetapi coba Anda berikan karya Anda yang tidak diduga-duga oleh orang dan bahkan melebihi ekspektasinya, maka hasilnya akan meningkat secara eksponensial! Orang akan sangat kagum karena Anda biasa memberikan ‘lebih dari ekspektasi’ dan sebagai hasilnya orang akan percaya terhadap Anda. Jadi, jika memang kita bisa memberikan yang terbaik dan terus lebih baik, kenapa tidak? Toh itu semua pasti akan kembali kepada diri kita. Mereka yang sudah sukses saat ini, ketika diteliti ternyata memiliki sebuah benarng merah yang bisa ditarik: Jika kita bisa memberikan lebih, kenapa harus dikurangi? Berbeda dengan orang kebanyakan: Jika saya bisa mengurangi, kenapa harus melebihkan?
Nah oleh karenanya kita sebagai kader pun harus menorehkan karya , karya seperti apa? Kita bisa menorehkan karya yang baik dalam segi apapun , kita senang untuk membaca buku , ya sudahlah kita kembangkan dan kita tingkatkan menjadi seorang penulis, penulis opini , penulis essay, penulis artikel dan sampailah menjadi penulis buku , hidup butuh proses , dan hidup itu butuh perjuangan. Kita di ipm di ajarkan banyak pengalaman banyak pengetahuan di dalamnya , oleh karenanya kita pikirkan inovasi dan keinginan kuat menjadikan diri kita seorang pencetus dan seorang penoreh karya. 
(Muhammad Fijri. N, PR IPM Panawuran, Garut)

Popular Posts