Sebelum dan setelah jadi kader



Namaku Miftahul Jannah orang-orang  akrab memanggilku Miftah, aku adalah gadis remaja yang keras kepala dan hidup tanpa aturan. Pada tahun 2018 aku lulus dari sekolah menengah pertama  dan melanjutkan  pendidikanku di salah satu SMA swasta yang ada di kampungku, ketika memasuki SMA  tersebut  aku masih pada diriku yang dulu hidup tanpa aturan dan keras  kepala. Karena hidupku yang tidak ada aturan pertemananku pun  bisa dikatakan tidak  wajar, karena temanku  kebanyakan laki-laki.
Semua berjalan normal sampai pada suatu hari ada masalah yang mengharuskanku pindah ke sekolah madrasah yang tidak jauh dari kampungku, perlu ditandai aku pindah ke sekolah MADRASAH . Sekolah ini adalah naungan Muhammadiyah dan sekolah baruku itu adalah MA Muhammadiyah Limbung dan di sinilah awal perubahanku. Ketika aku memasuki sekolah baruku, perlahan aku berubah menjadi orang yang pendiam dan menutupi sifat asaliku, yahh...kataknlah aku ini  munafik. Tapi ini adalah aku yang akan menutupi sifat asliku jika berada dilingkungan yang baru. Cara bertemanku pun berubah, aku yang dulunya  selalu bergaul dengan dengan laki-laki berubah menjadi aku yang menjaga batasanku dengan lawan jenis. Aku juga mulai belajar menutup aurat, ini memang sangat cepat tapi inilah yang terjadi padaku dan aku bersyukur untuk semua yang terjadi padaku. Mungkin ini juga karena teman-teman dan lingkunganku yang dikelilingi oleh orang-orang yang saleh dan salehah.
Perubahanku tidak sampai disitu saja, aku juga sudah rajin shalat dhuha karena  ini adalah  kewajiban sekolah yang harus ditaati. Yahh..aku melakukannya  karenabaturan sekolah yang tak mungkin ku langgar. Dan pada suatu waktu ada kegiatan wajib sekolah yang dilaksanakan setahun sekali, apalagi kalau bukan "Pelatihan Kader Dasar Tatuna Melati 1 (PKDTM1)" orang-orang biasa menyebutnya  pengkaderan. Sama seperti sebelumnya aku melakukan kegiatan ini dengan terpaksa, aku hanya tidak ingin ijazahku yang menjadi  konsekuensinya nanti.
Ketika hari pengkaderan tiba, kita diwajibkan untuk menginap di sekolah dengan berbagai macam aturan dan itu selama lima hari. Jujur ini berat bagiku tapi demi ijazah aku terpaksa mengikuti kegiatan  ini, dan anehnya diantara banyaknya temanku di kelas hanya aku yang mengikuti kegiatan ini dengan alasan semua temanku sudah dikader dan ini membuatku merasa kesal. Ingin rasanya aku protes tapi aku harus sabar agar orang-orang  tidak mengetahui sifat burukku.

Awalnya tidak ada masalah namun ketika waktu makan malam aku mulai merasa kesal, bagaimana tidak kesal? kita diberi makanan yang rasanya itu benar-benar tidak enak.Tak sampai disitu, ketika waktu tidur lagi-lagi aku dibuat kesal "Gimana sih, harusnya itu nyiapin tempat tidur yang banyak dan bisa memuat untuk semua peserta. Lahh..ini apa, nyusun bangku cuman muat beberapa orang terus kita harus tidur dimana?"batinku kesal. Hari-hari pengkaderan ku lalui dengan rasa kesal dan malas, bagaimana tidak? Aku cukup bosan dan merasa malas. Karna setiap hari hanya mandi - sarapan - materi - shalat - materi - tidur, yahhh terus menerus seperti itu saja.
Hingga pada suatu malam ada sebuah materi yang dibawakan oleh ustad Fulan, awal materinya baik pembawaannya lucu, hingga diakhir materi aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku, jantungku berdetak lebih cepat dan aku tak kuasa untuk menahan air mataku, entahlah aku benar-benar tersinggung dengan materinya. Semenjak kejadian itu aku merasa bahwa semua yang ku lakukan itu salah, hingga aku pun memutuskan untuk mulai berubah dan tentu aku berubah bukan karena paksaan atau aturan tapi ini semua ku lakukan karena Allah. Aku yang dulunya keras kepala dan susah untuk dinasehati, perlahan mulai menerima nasehat dari orang lain meskipun terkadang aku merasa kalau nasehat itu seperti penjara yang menjadi batas antara aku dan duniaku yang dulu, tapi aku kembali teringat dengan perkataan seorang ustad yang mengatakan "Hijrah Itu Butuh Pengorbanan". Mungkin inilah pengorbanan yang harus aku lakukan untuk hijrahku.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Aku semakin semangat mengikuti kajian yang sering diadakan di cabang, aku memang belum gabung di cabang karena aku belum mendapatkan izin dari orangtuaku. Hingga pada satu waktu aku bertanya kepada teman-temanku yang ada di cabang, apa yang harus aku lakukan agar orang tuaku memberikan izin mengikuti organisasi IPM. Mereka memberi saran agar mengadakan kajian di rumahku, dan aku melakukan saran tersebut. Namun setelah kajian tersebut aku belum mendapatkan izin dari orangtuaku. Hingga pada akhirnya aku nekat untuk masuk di cabang secara diam-diam, setelah masuk cabang semuanya baik karena orangtuaku belum mengetahui akan hal ini.
Pada suatu waktu aku mengikuti kegiatan perpisahan angkatanku yang diadakan di sekolah, dan bodohnya aku lupa membawa handphone ku dikegiatan yang penting ini. Yahh... Handphone ku ketinggalan dan tanpa sepengetahuan ku ternyata temanku menelfon untuk mengajakku rapat di cabang. Dan yang mengangkat panggilan itu adalah ibuku. Karena yang mengangkat panggilan adalah ibuku jadi setibanya aku pulang ke rumah tiba-tiba ibu langsung marah kepadaku. Ternyata ibu telah mengetahui kebenarannya bahwa aku sudah bergabung di cabang sebulan yang lalu. Akibat kejadian itu,aku di larang keluar rumah selama sepekan.
Karena aku tidak diizinkan untuk keluar rumah dan aku tidak ingin ketinggalan kajian. Akhirnya aku mengusulkan agar kajian rutin pekan ini diadakan di rmhku. Dan Alhamdulillah semua setuju, aku juga sudah izin dengan ibuku dan tentu izinnya juga tdk mudah.
Sebelum materi aku sengaja memberitahu pemateri untuk menyindir tentang kegiatan kita, agar orangtuaku dengar. Dan Alhamdulillah itu berhasil, karena setelah kajian aku diajak diskusi dengan orangtuaku dan mereka menanyakan  tentang keseriusanku mengikuti organisasi IPM. Akhirnya aku menjawab kalau aku benar-benar serius ingin mengikuti organisasi ini.
Ohh...iya untuk kalian yang tidak tahu organisasi IPM itu apa, nihh aku kasih tau. Jadi organisasi IPM itu organisasi otonom Muhammadiyah yang merupakan gerakan Islam, dakwah amar ma'ruf nahi mungkar dikalangan remaja, berakidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Al-Sunnah. Dan strukturnya itu mulai dari pimpinan ranting, pimpinan cabang, pimpinan daerah, pimpinan wilayah dan pimpinan pusat.
Oke kembali ke topik...
Setelah mendapatkan izin untuk bergabung di cabang aku semakin semangat mengikuti kegiatan yang sering dilakukan di organisasi IPM. Hari-hari berlalu, kini aku tidak hanya berkegiatan di cabang, aku mulai bergabung di Daerah. Namun tak lama setelah aku gabung di pimpinan daerah, aku harus melanjutkan pendidikan di luar kotaku saat ini, yahh aku harus melanjutkan pendidikan di kota Yogyakarta. Awalnya aku ragu namun temanku memberi pesan kepadaku "Kau boleh berada di kota manapun, tapi ingat kamu adalah kader dari IPM". Dari pesan temanku tersebut aku juga mengingat perkataan K.H Ahmad Dahlan "Jadilah Insinyur, Megister, Doktor, Profesor dll. Lalu kembalilah ke Muhammadiyah." Dari pesan ini aku semakin memantapkan langkah ku untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta, tapi aku tetaplah aku kader IPM dan siap berjuang di Muhammadiyah.

Popular Posts