Refleksi Gerakan Iqra Dalam Milad IPM Ke-59 Tahun


Setiap perayaan kelahiran patutlah untuk di refleksikan kembali mengenai tapak tilas perjalanan yang telah dilaluinya, begitupun dengan ikatan kita tercinta; Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang tepat pada tanggal 18 Juli nanti genap menginjak usia 59 tahun. Ibarat seorang manusia, manis asam kehidupan telah dirasakan.
Tetapi pertanyaannya, apakah perayaan milad kali ini betul-betul direnungkan dengan penuh kesadaran dan penghayatan oleh para kader ataukah hanya riak-riak seremonial belaka yang melambangkan kecintaan semu kita terhadap ikatan ini ?
Tentunya jawabannya ada di masing-masing benak dari sodara sekalian. Sehingga untuk merumuskan jalan keluar dari pertanyaan di atas, dibutuhkan sebuah pembacaan sejarah mulai awal berdirinya sampai waktu sekarang. Yang dimana ikatan ini terbentuk sebagai konsensus berdirinya sekolah-sekolah Muhammadiyah, maka di perlukan sebuah wadah untuk menampung para pelajar-pelajar yang bernaung disekolah tersebut sebagai cikal bakal pelanjut pengurus perserikatan nantinya.
Sejogjanya atmosfer ikatan pada saat awal berdiri dengan sekarang ini tentulah berbeda, ibarat kata ia telah berevolusi dan menjalar di hampir seluruh wilayah ibu pertiwi. Maka problem yang dihadapinya setiap masa berbeda pula, disinilah penulis mencoba menjabarkan kondisi didalam tubuh ikatan ter-khususnya para kader.
Kita tidak menafikkan bahwa IPM merupakan organisasi pelajar terbesar yang ada di Indonesia bahkan dunia dan merupakan kesyukuran bagi kita sebagai seorang kader IPM itu sendiri. Tapi tentunya ada pekerjaan rumah yang harus kawan-kawan kader selesaikan didalam sematan titel tersebut, yakni mempertahankan rekor prestasi agar terus maju bukannya malah stagnan dan kehabisan ide dalam memperbaiki tatanan masayarakat terkhususnya dikalangan para pelajar.
Dan mendengar kata pelajar maka akan selalu identik dengan orang yang terdidik yang memiliki semangat baca/iqro’ yang tinggi, lebih mengerucut lagi IPM menggunakan slogan dalam Q.S. Al-Qalam ayat 1 yang sarat akan pemaknaan untuk senantiasa membaca baik secara tekstual maupun kontekstual. Dan menurut penulis dalam hal iqro-lah kita perlu mengintropeksi diri dimana letak ketimpangan itu terjadi.
Sehingga menjadi beban moral kita sebagai kader ikatan dalam menggaungkan semangat baca karena fakta dunia mengatakan yang dirilis KOMINFO; UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, yakni hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca. Dibandingkan dengan pengguna aktif smartphone, Indonesia menempati posisi ke empat terbesar setelah Cina, India, dan Amerika. Hal ini megindikasikan bahwa masyarakat sekarang terkhususnya para pemuda lebih aktif berinteraksi dengan sosial media mereka ketimbang membaca buku, koran, maupun majalah.
Walaipun banyak yang berdalih mengatakan bahwa kami menggunakan smartphone untuk membaca; membaca whatsapp, status facebook, serta instagram. Sah-sah saja memang, tetapi apakah yang kita baca dan lihat melalui sosial media tersebut memiliki kualitas dan kegunaan  dalam memperbaiki ketimpangan yang ada.
Dengan tamparan keras oleh fakta diatas bahwa ternyata di dalam negeri ini, masyarakatnya masih dalam kungkungan ketuna aksaraan, maka sebagai seorang kader seharusnya kita malu terhadap diri sendiri. Dimana kenyataannya semangat slogan iqro’ yang sering kita gaung-gaungkan diatas mimbar serta penanda seorang pegiat pena literasi ternyata tak berimbas secara signifikan di kehidupan nyata.
Maka perlu adanya pembacaan ulang didalam pembaruan gerakan sehingga eksistensi ikatan tak pudar ditelan arus globalisasi yang makin deras, kreatifitas para kader tentunya akan diuji maka semangat saling membahu seikatan seperjuangan harus digaungkan demi terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sesuai tujuan Muhammadiyah. Sebab  jangan berharap melihat perserikatan akan maju kedepannya kalo generasi muda Muhammadiyah masih terbius oleh romantisme kejayaan masa lalu.
Sehingga inilah waktu yang sangat tepat untuk bangkit melawan ketuna aksaraan, sebab Muhammadiyah masih perlu sosok seperti KH. Ahmad Dahlan yang meretas kebobrokan moral dan keagamaan di Kauman lewat pembacaan terhadap Surah Al-Ma’un, begitupun dengan bapak bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta tak mungkin dapat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sampai diucapkannya proklamasi kemerdekaan tanpa adanya budaya perenungan dan pembacaan mendalam mengenai ketimpangan yang terjadi kala itu akibat penjajahan.
Dari ketiga tokoh bangsa diatas dan tokoh bangsa lainnya yang belum sempat disebut dapat kita jadikan sebagai contoh patron pergerakan didalam ber-Muhammadiyah, berbangsa, bernegara, dan beragama.
Sehingga poin penting yang penulis ingin tekankan yakni bukan hanya memperkaya wawasan lewat buku saja, akan tetapi melanjutkannya keranah diskusi dan terakhir menerapkannya dengan sebuah aksi nyata dalam berkaya  untuk masyarakat.
Akhir kata dari penulis;
Nuun wal qolami wamayasthurun
(Nun, demi pena dan apa yang telah dituliskannya)
Semoga sejarah perjuangan akan tetap terukir baik dalam carik kertas maupun dalam setiap langkah perjuangan.
Dan angkatlah pena,
Goreskan karya...
Amiin
(Muh. Ilham Syah, PC IPM Barembeng)

Popular Posts