MENEMUKAN SANG FAJAR BAGI SEORANG PELAJAR



     Seorang pelajar adalah menuntut kewajiban pada lembaga pendidikan untuk menuntut ilmu sesuai dari apa potensi yang ingin diasahnya. Pelajar harus terampil dalam bidang yang ditekuninya agar menjadi seorang yang berprestasi serta bisa meningkatkan potensi untuk menunjang bakatnya di masa depan.
          Mengikuti kegiatan belajar disekolah secara formal tentu lebih banyak membuat pelajar merasa jenuh terhadap studi yang dipelajarinya begitu banyak, (terkhususnya SMA) merasa kebingungan akan pencarian potensi karena yang dipelajari begitu banyak, seperti matematika, biologi, sejarah, fisika, kimia dll.    
Pelajar semestinya bukan hanya mengikuti kegiatan belajar formal di sekolahnya, melainkan mengasah potensi minat dan bakatnya dari lembaga komunitas hingga pada jenjang organisasi (ekstrakulikuler), begitu beragam yang bisa pelajar minati sesuai potensi minat dan bakatnya, seperti voli, futsal, lembaga dakwah, PMR dll baik yang disediakan oleh pihak internal sekolah ataupun eksternal sekolah. Pencarian potensi serta bakat para pelajar sesungguhnya sudah tercermin pada sikap serta perilakunya, tergantung pada kebiasaan pelajar saat di sekolah ataupun di luar sekolah.
Penulis sendiri akan menguraikan bagaimana seorang pelajar bisa menemukan potensinya sehingga mendapatkan dari apa yang selama ini yang begitu dia cari. Tentu yang akan dibahas tak jauh-jauh dari pengalaman penulis sendiri dalam menemukan potensinya sehingga kewajiban untuknya dia bersyukur atas apa yang dicapainya.
”ketika seorang pelajar mengikuti serta mematuhi arahan guru disekolah, saat itu merasa jenuh dari apa yang keseharian pelajar tersebut alami saat berada di sekolah. Bangun pagi begitu cepat, tidak bisa telat datang kesekolah, belajar secara formal yang ditentikan jam belajar serta jam istirahat hingga pulang ke rumah pada jam sekolah yang telah ditentukan, sampai pada teman kelas yang itu-itu saja.
Berbagai ekstrakulikuler yang diikuti pun tak membuat rasa puas dalam diri untuk betah mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakannya. Ada yang menerapkan kegiatan sore merasa lelah karena seharian belajar, sampai kegiatan malam yang terkendala izin orangtua.
Pelajar yang mengalami hal tersebut tentu meninggalkan rasa kejenuhan yang begitu mendalam menjalani kesehariannya disekolah sehingga makna hidup yang dicarinya tak kunjung ditemukannya, serta rasa bosan yang senantiasa menghantui tatkala berada disekolah.
Berbagai kegiatan organisasi yang diikuti tak membuat betah dalam berbagai kegiatan, menerapkan berbagai program yang hanya memenuhi tuntutan kerja organisasi. Hal tersebut terus-menerus hanya sebatas kegiatan semata tanpa ikatan emosional sesama pengurus serta waktu ibadah yang tidak teratur akhirnya merasa tak betah.
Berbagai pengalaman pun dijajaki untuk menemukan makna hidup, tak kunjung dapat apa yang dia cari. Lantas apa sebenarnya yang dicari? Harta pun ada, meskipun nafkah orangtua tetapi sudah memenuhi kebutuhan sehari-hari, begitupula teman yang banyak. Tapi tak memberikan rasa puas saat berinteraksi, interaksi pun sering dibarengi saling prasangka hingga pertengkaranpu jadi akhir dari ceritanya.
Sungguh, jiwapun merasa pedih menjalani kenyataan yang begitu memilukan, prestasi serta nilai memuaskan tak kunjung memberikan rasa puas untuk mensyukuri segalanya.
Suatu saat, di sela-sela waktu membantu orangtua, tak disangka datang seorang teman membawakan formulir untuk bisa bergabung dalam sebuah organisasi, yaitu Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Kedengarannya masih terasa asing, tetapi nama Muhammadiyah-nya begitu sering terngiang di kepala karena sering dengar. Akhirnya orangtua mengizinkan untuk ikut kegiatan yang direncanakan 4 hari 4 malam tersebut di sebuah sekolah dasar.
Hari pertama yang begitu pedih rasanya menjajaki pengalaman baru. Semangat datang dari teman-teman untuk tetap bertaham. Materi demi materi didapatkan, alhamdulillah semuanya bermanfaat untuk membentuk diri yang tampil percaya diri dengan semangat keislaman.
Antusias untuk ikut berbagai kegiatan yang tak terbendung membuat jiwa selalu merasa terpanggil untuk mengabdi pada organisasi tersebut. Membuat jiwa selalu bertanya-tanya, apa yang membuat begitu betah dalam organisasi ini seperti ikut panitia pengkaderan, follow up dan berbagai kegiatan lainnya? Yaitu adanya nuansa ketenangan dalam diri yang berbagai kegiatan selalu diisi dengan kegiatan spiritual seperti ibadah, menuntut ilmu serta ikatan emosional sesama kader yang saling mengisi satu sama lain.
Akhirnya, merasa terpuaskan sudah pencarian makna hidup yang selama ini dinanti-nanti, bahwa berlembaga di Ikatan Pelajar Muhammadiyah memberikan pengalaman yang tidak pernah diberikan organisasi lain, berbagai kegiatan sebelumnya diikuti tak kunjung menemukan suasana damai dalam diri untuk bertahan. akhirnya menemukan sang fajar yaitu pencerahan dalam diri untuk membangkitkan semangat hidup untuk membangun visi sebagai pelajar berkemajuan”
Itulah makna sang fajar yang penulis dapatkan dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah, menemukan makna hidup yang sebenarnya. Kegiatan dilakukan antara duniawi serta ukhrawi seakan-akan berjalan berbarengan, seperti tercantum dalam QS al-Baqarah ayat 30 sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat (khalifah) dan QS adz-Dzariyat ayat 56 sebagai bentuk pengabdian (‘abd) kepada Allah SWT.
Pencerahan yang didapatkan adalah mampu memaknai setiap langkah agar bernilai ibadah serta bermanfaat kepada sesama karena ditopang oleh iman, dibangun atas ilmu pengetahuan Islam yang melahirkan akhlakul karimah. Saat berada disekolah nilai pun makin meningkat begitupun sikap dan etika kepada guru semakin baik, teman yang begitu kagum dengan perubahan serta jiwa spiritual yang semakin rutin melaksanakan wajib sampai pada yang sunnah.
Itulah makna hidup sesungguhnya, pencerahan seperti pada lambang Muhammadiyah, serta berkarya dan terus belajar tercermin pada lambang IPM yang dilandasi semangat “Nuun, walqalami wamaa yasturun”.
(Muh. Akbar, PC IPM Pallangga)

Popular Posts