LEWAT RUANG-RUANG YANG BERSAMBUT KEABADIAN
'Telah bersambut titah Ilahi kepada para pemegang
risalah kekaryaan. Maka, lewat pengabdian, berkarya adalah tujuan dan menjadi
pelajar berkarya adalah sebuah keniscayaan."
Tidak bisa digambarkan bagaimana bangsa ini akan
terus mengurus nasib dan mengeruh hidup tanpa pendidikan atau bila mana pelajar
menjadi alpa dari tujuannya.
Nun, wal qalami
wamaa yasturuun! Melalui jalan
tersebut Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dalam usianya ke 59 berusaha
menerobos pintu kebiadaban demi mencipta keadaban. Ada banyak ruang yang
ditembus IPM dengan hanya mengandalkan karya. Sebuah persembahan nyata yang
menjadi partisipasi para pelajar Muhammadiyah sebagai tunggangan menuju
kekuasaan.
Berbagai dinamika di kalangan pelajar coba diramu
oleh kader-kader IPM dengan menjawab lebih statis. Persoalan dari individu
hingga naik ke tataran pemerintah. Sebuah cara elok ala pelajar yang melibatkan
partisipasi diri memberontak hal-hal upnormal. IPM menganggap diri sebagai
bagian dari peluru untuk melumpuhkan sebuah kebijakan melalui gagasan dan aksi
advokasi pelajar.
Maka sejatinya, kelahiran IPM adalah hadiah untuk
bangsa!
Sebuah ironi kemalangan berpikir
Tiada manusia hidup tanpa berpikir, apapun itu.
Bermacam-macam pikir membuahkan dua jenis, yaitu pikiran positif dan negatif.
Tentu, agar memperoleh sikap postif yang didapatkan dari pikiran, dibutuhkan
sebuah kematangan berpikir. Sayang saja, kematangan berpikir yang dimaksud ini
bukan gratisan atau didapat begitu saja. Hal itu bertumbuh dari ruang-ruang
dinamika yang menciptakan sudut pandang. Sudut pandang bermula dari prinsip ke
pemikiran hingga menjadi karakter.
Ruang-ruang dinamika tersebut begitu sulit dijumpai
hanya sebatas di bangku sekolah, melainkan di organisasi. Di usia pelajar, tak
jarang orang berdalih menyelamatkan diri dengan berpegang pada istilah 'masa pencarian jati diri' yang
diapresiasikan melalui pacaran hingga pergaulan sex bebas. Sehingga kehadiran
IPM dalam membentuk kepribadian yang berakhlak mulia coba mematahkan kemalangan
berpikir kaum pelajar.
Sebagai poros pelajar dan poros peradaban, kader IPM
setidaknya menempuh langkah pembaharuan individual pelajar melalui kerja-kerja
kaderisasi agar semakin banyak yang terhimpun ke dalam pergerakan pelajar
positif yang boleh dikata kembali pada hakikatnya.
Bagaimana karya kader IPM?
Karya adalah apa yang dihasilkan dan bermanfaat. Karya bisa berupa ciptaan yang
memiliki nilai jual atau memiliki nilai guna. Karya yang tiada habis
dilontarkan oleh IPM, tidak hanya berupa karya hasta, melainkan karya yang
lebih memiliki kegunaan, yaitu karya lisan, karya tulisan, dan karya aksi. Sejak awal kelahiran IPM, karya menjadi gaun
utama yang tidak boleh alpa dari diri kader. Sebagai kader IPM, saya bisa
merasakan bagaimana nilai-nilai IPM begitu melakat pada diri sehingga setiap
orang setidaknya melakukan karya guna yang dilakukan secara kolektif kolegial.
Kontribusi kecil yang bisa dibilang karya, adalah setidaknya proses kaderisasi.
Bukan hal yang gampang dapat mengkader sekian puluh orang yang bisa tetap
seperti apa cita-cita perkaderan sejak awal.
Maka kontribusi yang nyata dalam ber-IPM adalah
ketika mampu mengawal perkaderan hingga menjamin terbentuknya kader-kader yang
sesuai tujuan IPM. Kualifikasi ini berbentuk atas tiga karya sebagaimana di
atas, yaitu, melalui lisan, tulisan, dan aksi.
Karya lisan IPM bisa ditemui di ruang-ruang diskusi
keilmuan, sebab kita ketahui bersama bahwa kebobrokan yang nyata adalah ketika
ruang-ruang diskusi keilmuan menjadi kosong, maka menjadi kering pulalah
kata-kata. Tentu, IPM tidak bisa kehilangan nalarnya sebagai kaula terpelajar
dari para pelajar lainnya, sebab itu yang menjadi pembeda dan identitas. Maka,
merawat nalar, sama pentingnya mengisi perut.
Tak kalah penting lagi dengan apa yang disebut
literasi. Menggaunkan literasi atau budaya tulis menulis menjadi prinsip
terpenting untuk mengakui diri sebagai kader IPM. Yang dimaksud di sini, tidak
harus seluruhnya memiliki terbitan karya buku, setidaknya, menelurkan
tulisan-tulisan baik di media cetak/online skala nasional atau lokal, bahkan
tingkat organisasi saja, harus terus digeliatkan. Misalnya saja, kehadiran
lomba menulis opini oleh Pimpinan Daerah IPM Kabupaten Gowa juga menjadi
kesyukuran untuk memacu para kader dan pelajar lainnya agar menuangkan gagasan
ke dalam bentuk tulisan. Bentuk tulisan tersebut pula diharapkan menjadi media
bertukar pendapat dengan pembaca.
Hal berikut yang juga sama pentingnya adalah karya
aksi. Bagaimana mungkin kita membicarakan suatu perihal dan membahasnya tanpa
aksi. Karya aksi serupa dengan buah dari pohon. Buah dari pemikiran yang
didiskusikan dan yang tuliskan, bisa bermanfaat bagi orang dengan rasanya yang
ranum atau dalam hal ini, bisa memecah masalah dan menemui solusi dari kondisi
kepribadian maupun kondisi kebangsaan.
Apa guna berjam-jam dihabiskan untuk rapat bila
konsep tidak benar-benar dijalankan. Di usia IPM yang berkepanjangan ini,
diharapkan mampu memperlebar sayap yang menjuntai dari genarasi terdahu hingga
para pemula agar pemikiran dan aksi sama-sama selamat dari tantangan zaman.
Bukan hanya selamat, melainkan semakin maju. Maka, prinsip dan slogan IPM
sebagai pelajar berkemajuan diharapkan tidak sebatas penamaan namun menjadi
benar-benar apa yang diharapkan. Pelajar berkemajuan diharapkan terus memiliki
terobosan baru dan grand desain karya-karya terbaru agar tetap mampu membaca
kondisi zaman menurut tantangan yang ada. Hal ini agar setidaknya IPM dalam
karyanya tetap merawat kaderisasi yang juga bersesuaian dengan kondisi zaman
agar citra IPM selalu menjadi posona dan pemantik pelajar pada umumnya.
Karya-karya inilah menjadi bukti betapa IPM selalu hadir, bukan hanya di
Sekolah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) , melainkan juga di Sekolah Non
PTM. Sebuah kehadiran yang bukan hanya formalitas, melainkan sebuah kerinduan.


