IPM : PELAJAR, KADERISASI, DAN PRAKSIS SOSIAL
Pada dasarnya tulisan ini, lahir
kembali menginspirasi penulis ketika bertemu kawan-kawan seperjuangan waktu
menjadi bagian dari kader IPM tepatnya Ranting
MA Muhammadiyah Kota Bima. Penulis yang dulunya Alhamdulillah diberikan kepercayaan penuh
menjabat sebagai ketua umum. Tentunya sebagai orang yang pernah berkecimpung dibawah naungan
pena kuning ini mempunyai kesan tersendiri bagi wadah yang sebelumnya tempat
penulis berproses. Tak terlupakan tulisan ini juga lahir dari hasil refleksi
singkat penulis untuk mengapresiasi secara personal akan masifitas proses
kaderisasi kawan-kawan pengurus dalam melakukan kegiatan perkaderan, tepatnya
diranting MA Muhammadiyah Kota
Bima.
IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), menjadi unit terkecil
tingkat pelajar yang memiliki tugas dan tanggung jawab cita-cita perjuangan
dakwah sang ayah yakni Muhammadiyah. Hal ini sudah jelas mengisyaratkan bahwa
IPM adalah anak bungsunya Muhammadiyah,
atau dikenal dengan ortom (organisasi otonom) Muhammadiyah. Berhubung IPM adalah
sebagai wadah bergerak dikalangan pelajar, tentunya terdapat beberapa kesamaan
dengan organisasi kesiswaan seperti OSIS dan lainya. Namun IPM memiliki corak
tersendiri yang membedakanya dengan yang lain, ini dapat dilihat dengat bentuk
kaderisasi dan muatan materi perkaderanya. IPM memiliki desain perkaderan yang
sifatnya tranformatif kritis dengan menekankan pada aspek organisasi dan dakwah
guna membentuk pelopor dan pelangsung
penyempurna amanah dan tujuan persyarikatan.
Organisasi yang bersimbolkan pena,
memancarkan sinar mentari kehidupanya memiliki catatan sejarah yang luar biasa
sampai masa pembentukan. Tepatnya 18 julli 1961 menjadi hari lahir sekaligus
hari bahagianya. Kelahiran IPM tidak mungkin kita melepaskanya dengan
berdirinya muhammadiyah sebagai gerakan sosial yang membawa misi keagamaan
yakni dakwah
amar
ma’ruf nahi munkar, dan ini adalah sebagai konsekuensi
logis banyaknya amal usaha Muhammadiyah
guna mendidik dan membina para kader. Tentunya pada kesempatan ini penulis
tidak akan menguraikan perjalanan panjang IPM dari fase ke fase, sejak masa
perencanaan, masa penataan, sampai pada puncaknya masa pembentukan.
Pun kalau dilacak sejarah berdirinya
IPM erat kaitanya dengan konteks kebangsaan pada saat itu. Untuk menjaga
keutuhan dan
Ideologi kader-kader Muhammadiyah maka
gagasan perlunya dibentuk sebuah wadah yang akan mengorganisirnya agar tidak
terjangkit virus-virus liberalis, apalagi waktu itu maraknya gerakan komunis oleh
PKI. Dengan demikian IPM merasa terpanggil dan
memiliki tanggung jawab moral guna meneruskan dan mendukung misi muhammadiyah
sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna misi muhammadiyah. Artinya,
kalahiran IPM mencakup dua hal yakni; pertama,
sebagai panjang tangan dalam menjalankan misi dakwah Muhammadiyah
(aksentuator dan eksekutor). Kedua,
sebagai organ/lembaga kaderisasi pelajar muhammadiyah untuk menyiapkan generasi
mendatang demi tercapainya misi
Muhammadiyah.
Tidak ada sedikitpun rasa bosan ketika
berbicara tentang IPM, seiring
apapun hanya akan melahirkan keasyikan. Ada saja hal-hal menarik untuk kita
perbincangkan mengenai ortom bersimbolkan pena ini. Apapun yang dijelaskan hanyalah luarnya saja,
dan akan kita temukan yang tak mampu terjelaskan lewat kata apabila kita masuk
berkecimpung didalamnya. Seperti umumnya
organisasi kesiswaan/organ lainya, tanggung jawab organisasi tetap ditanamkan
kuat-kuat pada diri setiap kader IPM. IPM dengan profil kadernya membuktikan
bahwa berjuang di IPM bukanlah kesia-siaan serta memberikan dampak besar
terhadap pembentukan dan pengembangan potensi diri. Maka tidak heran, sampai
sekarang IPM masih giat melakukan perkaderan guna menyiapkan regenarasi
kepemimpinan.
Pelajar,
Kaderisasi, Praksis Sosial
IPM sebagai eksponen gerakan
pelajar-pelajar Muhammadiyah
menjadi ciri khas bahwa setingkat
pelajar, pengetahuan organisasi
maupun gagasan politik sedari awal sudah menjadi konsumsi untuk memetakan
keberlanjutan IPM. Ini tidak bertujuan semata-mata mengarahkan pelajar/kader
IPM (secara mutlak) menjadi aktor-aktor politik dan mengisi kursi-kursi kosong
kekuasaan. Pelajar dengan tempaan organisasi, apalagi IPM telah menjadi
bukti pembangunan potensi akademik maupun organisasi. IPM menjadi wadah
berjuang bagi pelajar-pelajar Muhammadiyah.
Hal ini bermuatan positif, karena melihat kegiatan belajar mengajar ditingkat
sekolah menengah memiliki banyak waktu kosong. Berkecimpung dalam IPM berarti
berusaha dengan sekuat tenaga memaksimalkan waktu kosong tersebut untuk melakukan
kegiatan yang bernilai Ibadah,
sebab ajaran utama di IPM adalah sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna.
Sebenarnya ada banyak untuk
mempersiapkan generasi muda yang memiliki visi berkemajuan, termasuk
pelajar Muhammadiyah. Namun,
pada hakikatnya perjuangan harus melewati fase-fase tersendiri. Tidak boleh
seseorang langsung meloncat ke tingkat lebih tinggi sebelum menjajakkan kaki
pada fase terendah. Kita tidak saja berbicara potensi namun pengalaman juga
penting dibutuhkan. Pelajar apabila sudah terbiasa dengan rapat dan diskusi
cenderung memiliki kematangan konsep hidup yang jelas dan memiliki keberanian
menghadapi tantangan masa depan. Generasi muda yang masih fresh tentunya berada dibangku sekolah menengah, juga mengimbangi
tingkat emosional yang masih menggebu-gebu. Penulis pun merasakanya ketika
aktif disebuah organisasi, selain dididik untuk punya integritas dan tanggung
jawab juga mengharuskan memiliki tingkat pengetahuan lebih minimal secara
akademi nilai tidak dibawah rata-rata.
Lanjut berbicara pada tahap
kaderisasi, seperti penjelasan yang dijelaskan oleh sebagian banyak orang
tujuanya agar memproduksi generasi baru guna mengemban tanggung jawab umat, bangsa
dan persyarikatan. Artinya Muhammadiyah
tidak perlu lagi takut akan kehilangan generasi baru. Selama kader yang dilahirkan
dalam rahim Muhammadiyah
terus dipacu semangatnya dan diberikan tempat seluas-luasnya untuk belajar
berkontribusi. Kekeringan didalam tubuh persyarikatan sekarang ini karena
dilatarbelakangi oleh tidak diberikanya tempat kepada kader-kader persyarikatan
untuk berproses.
Dalam pengamatan penulis hal ini
juga disebabkan ketiadaan anggota/warga Muhammadiyah
sendiri dalam tubuh persyarikatan. Ketika tubuh persyarikatan sudah dikuasai
oleh orang diluar Muhammadiyah
(mohon maaf, ada
yang menyebutnya sebagai penumpang gelap Muhammadiyah,
karena hanya menumpang hidup dalam Muhammadiyah
namun tidak punya/mau bekerja ikhlas untuk persyarikatan Muhammadiyah) maka mereka
kemudian menutup pintu untuk kader/pelajar Muhammadiyah
sendiri. Hal ini seharusnya perlu ditindak lanjuti lebih serius oleh para
pimpinan tertinggi amal usaha Muhammadiyah.
Agar kedepanya kader-kader Muhammadiyah
tidak menjadi asing dalam rumah sendiri.
Praksis sosial atau lebih dikenal
dengan realisasi nyata dalam bentuk kerja konkret itu perlu ditunjukkan oleh kader
IPM. Praksis sosial menjadi tujuan mulia setiap organisasi, IPM tak mau
ketinggalan dengan gagasan ini. Inovasi warisan ayahanda KH Ahmad Dahlan kepada
anak-anaknya yang dikenal dengan “teologi al-ma’un”. Ketika ditanya mengapa
harus berulang kali belajar ayat al-ma’un Kyai Dahlan menjawab elegan, “bukan
yang dibaca, namun dilakoni” (kurang lebih begitu singkatnya dalam bahasa
penulis). IPM tidak mungkin meninggalkan apa yang dicontohkan oleh ayahnya.
Akan tetapi, ini tidak membuat IPM termakan warisan dogma. IPM harus mempunyai
formulasi baru bagi keberlanjutanya.
Selama ini patut diapresiasi soal
praksis sosial IPM. Hal ini bisa dilihat lewat keterlibatan dan keikutsertaan
kader IPM dalam berbagai kegiatan sosial baik itu bakti sosial dengan masyarakat
maupun melakukan aksi penggalangan dana untuk disalurkan kepada keluarga dan
masyarakat yang membutuhkan. Walaupun organisasi ini masih setingkat pelajar,
penulis tidak meragukanya tentu dengan tolak ukur yang sepadan. IPM luar biasa
membangun komunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak baik itu
masyarakat umum maupun dengan pemerintah. Dan memang begitu seharusnya
IPM,membentuk kekeluargaan yang erta tidak mengambil jarak dengan siapapun
serta tidak menebarkan kebencian. Narasi yang dibangun oleh kader IPM selama
ini (berdasarkan pengalaman individu penulis) yang lebih mencolok adalah
gerakan literasi.
Gerakan menjadi ciri khas kader IPM.
Gerakan literasi menjadi manifestasi semboyan kader IPM “nun walqalami wama yasturuun” (demi pena dan apa yang
dituliskanya). Pun hal ini menjadi masalah tersendiri bagi IPM. Betapapun
semboyan ini digaungkan dan dipakai dimana-mana, tidak banyak kader IPM yang
mengamalkanya. Tepatnya di ranting IPM MA Muhammadiyah Kota Bima, sewaktu
penulis masih menjadi pengurus aktif untuk menanggulangi kekeringan gerakan
literasi ini maka diadakanlah kegiatan wajib setiap malam kamis. Setiap kader
wajib memiliki buku dan menyelesaikany lalu dipresentasikan didepan teman-teman
sesama kader. Gerakan wajib baca ini luar biasa manfaatnya, selain melatih para
kader untuk terbiasa dengan bacaan,
mereka juga dilatih untuk mengolah vokal.
IPM harus tetap andil dalam setiap
jejak perjalanan muhammadiyah. Membantu sang ayah mengepakkan sayap dakwah amar
ma’ruf nahi munkar. Mengingat generasi emas ada pada kader IPM, maka harus
dibina dengan serius dengan perngorganisiran yang mapan. Muhammadiyah semakin
besar, IPM pun harus memiliki jangkauan gagasan seiring dengan kebesaran
persyarikatan. Ranting adalah tempat berjuang yang sesungguhnya, maka ini
menegaskan IPM adalah generasi emas pejuang dengan hati ikhlas dan teguh pendirian.


