IKATAN DAN TANTANGAN
Pada hegemoni budaya yang semakin mengekang kesadaran,
ikatan harus terus memberikan jalan terang yang baik untuk kita dan masyarakat
dalam membebaskan manusia dari penjara modernitas yang semakin membunuh nalar
intelektual. Maka, ikatan mesti membangun tradisi literasi untuk mencegah
masyarakat tergerus pada dilema modernitas yang saya anggap tidak akan mungkin
memberikan solusi pada ikatan dalam upaya pemberdayaan kepada diri sendiri dan
masyarakat. Kita juga mesti bercermin pada keberhasilan transformasi abad gelap
kepada apa yang sering kali kita sebut sebagai abad pencerahan. Baik di timur
dan barat, perkembangan peradaban selalu dimulai dengan kesadaran membuka diri
terhadap pengetahuan, itulah mengapa dinasti abbasiyah misalnya dengan sangat
baik menafsirkan/memassifkan buku klasik dalam memperkaya pengetahuan umat.
Di Indonesia, kita sangat hapal dengan nama Soe Hok Gie,
Bung Hatta dan Pramoedya Ananta Toer. Mereka adalah warisan intelektual yang
tidak hanya “beringas” di lapangan, lebih dari pada
itu mereka adalah pembaca, penulis , sadar literasi. Itulah mengapa pentingnya
IPM membangun tradisi literasi di kalangan kader. Tentu bukan hanya itu, Kita
sungguh berharap ada gerak keluar yang dapat dilakukan oleh ikatan untuk
mengembangkan budaya literasi di masyarakat melihat kian mandegnya budaya
literasi dan sikap anti intelektualisme yang kian menyeruak di permukaan.
Di luar dari pada itu, Ikatan Pelajar Muhammadiyah juga
mesti melakukan pengilmuan sebagai upaya untuk bergerak dari nilai dan prinsip
ikatan yang tekstual menuju konteks sosial masyarakat. Dalam hal ini,
pengilmuan yang saya maksud bukan hanya membahas soal keilmuan semata, Namun
bagaimana kita mengkontekskan teks teks agama atau yang sering kita pahami
dengan membumikan islam. Demikianlah kita akan lugas dalam mengupas persoalan
dan mengagas solusi persoalan.
Selanjutnya, dalam memasuki usianya yang ke-59, ikatan
sangat saya harapkan terus tumbuh dan merasuk dalam gerakan sosial dan revolusi
dalam masyarakat. Kita dan ikatan harus mewujudkan fungsinya sebagai kaum
intelektual. Yakni, menjadi peran sosial mulai dari pemikir, pemimpin dan
pelaksana. Semoga pula ditahun tahun yang akan datang ikatan menjadi spirit
dalam melakukan perubahan yang lebih baik untuk memberikan sumbangsih peradaban
ke-indonesiaan yang mulai susut juang.
Terakhir, semoga kita dan ikatan terus berkelakar dan
berjuang di atas tapak kebenaran sebagai manifestasi Al-Qur’an
dan Sunnah nabi. Pun, terus membumi dalam gerakan literasi. Amin..
(Muh. Ilyas, PC IPM Pao Tombolo)


