Goresan Keyboard karya hati.
Goresan Keyboard ku kali ini akan ku ceritakan tentang pengalamanku
ber IPM ( Ikatan Pelajara Muhammadiyah ). Awal dari mulainya semangat baru
dalam diri saya.
Menjadi kader IPM sebenarnya tidak pernah terlintas dibenak ini
walaupun kedua orang tua saya adalah seorang kader. Niat awal mengikuti
pengkaderan IPM hanyalah demi mendapatkan sebuah ijazah. Karena bersekolah di
Madrasah Tsanawiyah yang ketika ingin mendapatkan ijazah syarat utamanya adalah
harus mengikuti PKTM 1 dan mendapatkan syahadah.
Banyak pengalaman
berharaga yang saya dapatkan. Pikiran saya yang semula mengikuti PKTM tersebut hanyalah
karena ijazah pun sudah tidak berlaku, tergantikan dengan saya ingin mengikuti
langkah sepupu-sepupu saya. Yang bisa menjadi Master Of Training dan menjadi Pimpinan
Cabang.
Aktif di IPM bagi saya adalah kesibukan yang berharga. Menjadi
seorang kader bagi saya artinya mengemban amanah baru. Amanah untuk menjadi pelajar
muslim yang berakhlak mulia, dan berilmu dalam rangka menegakkan dan menjunjung
tinggi nilai-nilai ajaran islam sehingga terwujud masyarakat islam yang
sebenar-benarnya yang menjadi tujuan IPM itu sendiri. Tapi amanah itu tidak sempat
saya teruskan setelah fakum karena faktor kegiatan sekolah yang jauh dari
nuansa IPM. Fase ini yang membuat saya menyesal sampai sekarang, kenapa saya
harus meninggalkan sesuatu yang telah memberikan arti sebuah perjuangan dan pengorbanan,
seharusnya pun saya harus bersyukur karena kedua orang tua sangat mendukung, mereka
tidak pernah membatasi dan melarang, selama itu untuk IPM. Justru saya merasa
sangat kalah dan malu kepada para kader yang tidak di berikan kebebasan oleh
orang tua mereka, malah semangat merekalah yang paling besar untuk ber IPM
walaupun rintangannya dari orang tua mereka sendiri.
3 tahun lamanya fakum, dihati kecil ini masih selalu rindu
akan suasana IPM, rindu dengan kader-kader yang selalu membuat suasana kegiatan
menjadi seru. Rasa kehilangan sangat
pekat dirasakan oleh hati yang selalu mencari. Mencari sesuatu hal untuk
keutuhan rasa yang selalu terasa. Rasa iri, rasa gengsi, rasa minder dan rasa
yang ingin kembali bersama mereka selalu menjadi satu saat melihat mereka
bersama tanpa hadirnya saya disana.
Fase ini yang membuat saya sadar. Saya sudah terlalu larut
dengan kemalasan dan kegiatan lain. Rasa malas yang melekat dengan jiwa dan bayangan
yang selalu terbanyang ingin menjadi orang sukses. Menjadi hal yang sangat
lumrah untuk kita semua, ingin hebat tapi tidak ingin berkorban dan melalui proses.
Itu yang saya rasakan, saya ingin hebat seperti sepupu-sepupu saya, tapi saya
tidak pernah fokus mengikuti proses seperti yang mereka lakukan. Ini fase
terberat menurut saya mengikuti proses yang panjang disaat kemalasan berkegiatan
mulai merasuki keyakinan dan logika. Tapi di sisi lain relung hati selalu merasakan
sesuatu yang terus menyemangati untuk fokus dan berproses.
Sehingga pada satu titik saya kembali memantapkan hati dan juga
berkat motivasi kedua orang tua, saya mulai untuk fokus dan come back dari pingsan
ber IPM. Dimulai dari Musyawarah Cabang saat itu ,saya di tawarkan untuk kembali
masuk dalam anggota cabang dan saat itu dengan yakin saya menjawab IYA. Awal yang
akan membuat saya kembali merasakan meriahnya berkegiatan di IPM. Kegiatan demi
kegiatan saya lakukan, semangat yang dulu saya rasakan, kembali. Saya ingin membayar
semua rindu yang sudah saya pendam selama 3 tahun fakum. Dan Alhamdulillah setelah
mulai fokus untuk berkegiatan, kesempatan besar datang kepada saya. Di rekomendasikan
mendaji peserta PKMTM 11 membuat saya bangkit dari pingsan yang sangat tidak
berfaedah. Dan yah kesempatan ini saya anggap menjadi awal bagi saya kembali kepada
mu sang ikatan yang memiliki tempat tersendiri di bagian terpenting dalam hati.
Saya selalu yakin tidak ada kata sia-sia dalam berjuang di jalan kebaikan,
karena Allah selalu bersama dengan orang yang berbuat baik.
Terimakasih IPM dan sepatah kata untukmu !
Begitu sulit untuk melupakan mu, begitu sulit untuk pergi
darimu, selalu saja tentangmu dan karenamu.
Bukan karena parasmu karena kau tak nyata dalam bentuk
fisik, bukan karena watakmu karena kau tak nyata dalam bentuk sifat.
Tapi karena nyaman yang kau berikan dan nyaman yang tak
tergantikan
Kini usiamu sudah semakin matang
Kini kau sudah tumbuh menjadi Organisasi kuat dengan
orang-orang hebat
Goresan demi goresan pena sang pelajar telah menjadi karya
nyata
Karya yang selalu di kenang bersamaan dengan namamu
Terima kasih Ikatanku.
Tetaplah kokoh, berdiri tegak di antara terpaan angin yang
mengintai merubuhkanmu
SELAMAT MILAD IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH KE-59, TETAP
TAJAMKAN MATA PENA DAN GORESKAN KARYA NYATA.
(Nurul Hasanah Syam, PC IPM Lempangang)


