Moralitas Pelajar




Dunia pendidikan kita saat ini sering menggemparkan. Di satu sisi, cukup banyak pelajar yang memperoleh penghargaan di tingkat nasional bahkan internasional melalui olimpiade matematika, fisika dll. Pelajar Indonesia pun banyak yang belajar diluar negeri dan mampu memperoleh prestasi yang cukup membanggakan. Namun, di sisi lain sering terdengar dan bahkan kita menyaksikan sendiri perkelahian/tawuran antar pelajar, pelajar yang mencoret-coret baju dengan alasan merayakan kelulusan, dan masih banyak lagi kasus-kasus miring pelajar yang sering tampil di media ataupun di media sosial.
Pelajar merupakan salah satu status yang tidak semua orang menyandangnya, hal ini di karenakan bukan karena pelajar di khususkan untuk anak yang berdarah biru, bangsawan, konglomerat  sampai pejabat, tapi hal ini di karenakan memang ada aturan khusus yang membatasi. Salah satu sebab yang menjadi kunci sukses bagi seorang pelajar dalam menjalani aktifitasnya adalah dengan moral yang selalu membersamai dirinya dalam bertingkah dan berkata-kata.
Mengutip kata hikmah seorang filusuf yang Nampak di batu nisannya dan  sangat intens membicarakan moral di tengah-tengah euforia zaman yang memuja dan mengagungkan akal secara berlebihan  yang masih berkembang pesat sampai saat sekarang ini. Setinggi-tinggi bintang di langit masih tinggi moralitas di dada manusia (Immanuel Kant 1724-1802). Menurutnya Kelebihan dan keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk lain adalah pada moralnya. Karena pada morallah manusia menemukan hakekat kemanusiaannya.
Kenapa Pelajar harus bermoral?
Moral sangat  penting terutama bagi pelajar, ketika seorang pelajar tidak memiliki moral ia akan semena-mena kepada siapa saja yang sedang berada di hadapannya, baik itu teman sebayanya, maupun orang yang lebih tua darinya.
Sebagai makhluk berakal maka yang  mampu mengendalikan akal dan nafsu sehingga kehidupan kita menjadi lebih baik dan bermakna  adalah moral itu sendiri. Lalu mengapa kita sebagai pelajar harus bermoral? Jawabannya adalah karena pelajar adalah  makhluk yang berakal, yang  segala perbuatan, tindakan, perkataan, dan bahkan kebiasaan harus mampu di pertanggungjawabkan. Kenapa demikian? Karena perbuatan seorang pelajar senantia dinilai dan perbuatan yang dinilai itulah yang menjadikan kehidupan manusia dan pelajar pada khususnya menjadi bermakna.
Penilaian terhadap perbuatan orang yang hilang ingatan,gila,hewan, ataupun anak kecil yang masih belum sadar tentang apa yang diperbuat tidak di kena pertanggungjawaban atas segala tingkah lakunya atau dengan kata lain  tingkah laku yang tidak dilakukakn secara sadar akan sulit untuk diberi penilaian. Sebagai contoh ketika ada orang yang hilang ingatan yang lapar, dan dia siberi makanan oleh seseorang yang tidak dikenal maka tanpa banyak pertimbangan orang ini akan melahap makanan tersebut. Berbeda dengan Pelajar yang sadar dan menyadari tingkah lakunya ketika dia di beri makanan oleh seseorang yang tidak di kenal maka dia tidak langsung untuk melahap makanan tersebut. Alasannya karena ada berbagai macam pertimbangan yang akan menjadi landasan apakah dia bisa melahap makanan tersebut atau tidak, apakah dia berhak untuk melahapnya, siapakah yang memberikan makanan ini, bagaimanakah cara melahapnya dan masih banyak pertimbangan yang akan dilakukan. Dan yang mampu untuk mengontrol itu semua adalah moral itu sendiri.
Jadilah pelajar yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas dan yakinilah bahwa kita terdidik bukan hanya sekedar menjadi orang yang pintar, berprestasi, membanggakan orang lain tapi kita di tuntut untuk memiliki moral sebagai pengontrol diri dalam bertingkah laku.
Al Musyawwir (KABID PIP IPM Gowa)

Popular Posts