Matahari-matahari Muhammadiyah (Homework PKMTM II IPM Gowa)


Tugas PKMTM II      :
 Resume Buku Muhammadiyah
Judul Buku                :
MATAHARI MATAHARI MUHAMMADIYAH
Penulis                       : 
H. Djarnawi Hadikusuma

Dalam Buku Matahari – matahari Muhammadiyah ini berisi kiprah Tokoh – tokoh yang berperan penting dalam pendirian Muhammadiyah. Dalam dunia Muhammdiyah telah timbul dan tenggelam Lima Matahari, Lima Pemimpin. Mereka ialah K.H. Ahmad DAhlan, K.H. Ibrahim, K.H. Fakhrodin, K.H. Hisyam, dan K.H. Mas Mansur.
Tokoh yang pertama adalah K.H. AHMAD DAHLAN, beliau adalah orang yang sangat berperan penting dalam berdirinya Muhammadiyah. Selama hidupnya beliau selalu mencari dan mengumpulkan bekal untuk mati. Dan bekal untuk mati itu telah beliau peroleh, yakni memperbanyak ibadah dan amal shalih, menyiarkan agama Allah serta memimpin umat ke jalan yang benar. Kemunduran umat islam sangat merisaukan hatinya dan dia merasa bertanggungjawab dan berkewajiban untuk membangunkan, menggerakkan, dan memajukan mereka. Dia sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilakukan seorang diri, melainkan harus oleh beberapa orang, oleh banyak orang yang diatur dengan seksama. Untuk itu harus dibentuk organisasi, atau perkumpulan, atau persyarikatan. Dia merasa tergugah oleh panggilan Allah dalam ayat 104 Surat Ali Imran. Dia pahami firman Allah itu sebagai perintah untuk mendirikan umat atau golongan orang yang bekerjasama untuk dakwah amal ma’ruf dan nahi munkar. Dengan pemahaman itu, dia dirikan sebuah organisasi dan dia beri nama “MUHAMMADIYAH”. Angkatan muda yang menjadi muridnya membantu dia dalam mendirikan dan memperkembangkan muhammadiyah antara lain Haji Mochtar, Haji Syuja’, Haji Fachrodin, Ki Bagus Hadikusuma. Bagi K.H. Ahmad Dahlan dan pengikutnya Muhammadiyah merupakan gerakan yang diyakini sebagai penghimpun umat dan wadah perjuangan dan amal. Pada tanggal 7 Rajab 1340 H bertepatan dengan 23 Februari 1923, pendiri Muhamadiyah itu pulang ke rahmatullah dengan tenang.

Tokoh yang kedua adalah K.H. IBRAHIM, sebelum K.H. Ahmad Dahlan wafat dia berpesan agar pemimpin Muhammadiyah nantinya dipimpin oleh Kyai Haji Ibrahim. Persidangan pada akhir Maret 1923 yang mengukuhkan K.H.Ibrahim tersebut, telah berhasil pula menyusun Pengurus Besar. Selama dalam pimpinan K.H. IBRAHIM, muhammadiyah mengadakan Persidangan Tahunan sepuluh kali dan setiap kali dia masih terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar. Pada kongres terakhir dalam periodenya, yakni congress ke-22 di Semarang tahun 1933, cabang – cabang Muhammadiyah telah berdiri di seluruh tanah air. Pada awal tahun 1934, K.H. Ibrahim wafat sesudah mengidap penyakit yang agak lama dalam usia 46 tahun. Saat usia yang masih terlalu muda, maka congress ke-23 pada tahun itu juga di Yogyakarta telah memilih H. Hisyam sebagai Ketua Pengurus Besar yang baru.

Tokoh yang ketiga adalah K.H.FACHRODIN, dia menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1916 dengan nomor baku 5 dan langsung menjabat sekretaris sampai tahun 1921. Sebagai wakil ketua pengurus besar, perhatian K.H. Fachrodin tidak hanya ditujukan kepada masalah pimpinan. Sebagai sekretaris, Fachrodin mengatur pekerjaannya dengan teliti dan cermat. Sebagai Wakil Ketua dia pegang teguh ketentuan – ketentuan organisasi. Dia hafal di luar kepala seluruh materi dalam Statuten ( Anggaran Dasar ) Muhammadiyah. Sifat Fachrodin yang suka berterus terang, tegas, dan mantap dibawanya setiap turun ke daerah – daerah, maka tidak heran daerah Muhammadiyah yang dikunjunginya memperoleh manfaat besar dan semakin maju. Pada tanggal 13 Maret 1921, Fachrodin menunaikan ibadah haji. Pada tahun 1920 dikemudikannya majalah Suara Muhammadiyah dengan bahasa dan huruf jawa. Pada tahun 1925, bagian Taman Pustaka menugaskan dia mendirikan sebuah percetakan, dia menjabat sebagai direkturnya yang pertama. Pada tahun 1926 Fachrodin yang menjabat Wakil Ketua mengambil alih pimpinan.

Tokoh yang keempat adalah K.H Hisyam, dia menjabat sebagai ketua PB pada tahun 1934. Selama 3 tahun Muhammadiyah berada di bawah pimpinannya telah mendapat kemajuan yang lebih pesat terutama pada segi ketertiban organisasi dan administrasi, dan pendidikan. Selama dia menjadi pemimpin dia membuka sekolah – sekolah muhammadiyah,dan dia mendapatkan bintang tanda jasa dari pemeritah Hindia Belanda. Pada tanggal 20 Mei 1945 K.H Hisyam wafat.

Tokoh yang kelima adalah K.H.MAS MANSUR, K.H Mas Mansyur adalah orang yang selalu mengikuti pengajian K.H. Ahmad Dahlan karena hal itu di Surabaya didirikan cabang Muhammadiyah yang di pimpin oleh K.H Mas Mansyur. Dia menjabat menjadi ketua besar pada tahun 1937. Selain menjabat sebagai ketua beliau juga diangkat sebagai Guru Madrasah Mu’alimin. Langkah Pengurus Besar di bawah K.H. Mas Mansur mengembuskan udara baru yang lebih segar dalam gerakan Muhammadiyah pada umumnya dan Pengurus Besar pada khususnya. Pokok-pokok pikiran berasal dari K.H. Mas Mansur yang menggambarkan luasnya pandnagan yang mencakup segala yang diperlukan oleh kebijaksanaan pimpinan untuk dapat sesuai dengan tuntutan zaman. Langkah itu diberi nama “LANGKAH MUHAMMADIYAH 1938-1940.” Yaitu
1. Memeperdalam Msauknya Iman
2. Memeperluas Paham agama
3. Memperbuahkan budi pekerti
4. Menuntun amalan intiqad
5. Menguatkan Persatuan
6. Menegakkan keadilan
7. Melakaukan Kebijaksanaan
8. Menguatkan majelis tanwir
9. Mengadakan conferentie bahagian
10.Mempermusyawarahkan keputusan
11. Mengawaskan gerakan dalam
12. mempersambungkan gerakan luar
K.H Mas Mansyur wafat seperti wafatnya Jamaluddin al-Afghani dalam tahanan pemerintah dan kekuasaan yang angkara murka. Jamaluddin al-Afghani  di Istambul, K.H. Mas Mansur di Surabaya, pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya diistirahatkan di makam Gipo, Surabaya.
Berdasarkan sejarah hidupnya yang penuh kepahlawanan itu, pada tahun 1946, Pemerintah Republik Indonesia mengangkat K.H. Mas Mansur menjadi Pahlawan Nasional, bersama-sama dengan K.H. Fachrodin.
Nurul Hasanah Syam ( Anggota Bid. ASBO PC IPM Lempangang )

Popular Posts