Sepasang Sepatu Tanpa Kaki
Ayah apakah aku ini anakmu? Pertanyaan yang hendak ku lontarkan padamu kala kau melayangkan pukulanmu padaku,aku merasa tak di anggap dengan segala hal yang aku lakukan untukmu, aku bingung dengan semua ini jika di luar sana banyak ayah yang menginginkan anaknya berkarya dan meraih prestasi demi prestasi dalam hidupnya, justru berbeda denganmu. Kau menganggap mimpiku sebagai omomg kosong bahkan kau menertawakan setiap mimpi dan harapan itu, salah jika aku memiliki cita-cita? Bukankah kau yang selalu berkata bahwa aku harus berprestasi namun nyatanya kau sendiri yang memotong tali impian yang telah ku ulur jauh. Hujan akan menjadi saksi dari kepergianku saat ini, ia akan selalu mengiringi langkahku hingga kata pulang menemui muaranya hingga hari itu tiba akan ku siapkan segalanya,mimpi dan cita-cita akan ku tata dengan baik, juga tak lupa seizin tuhanku kan ku rapalkan beribu doa untuk kebaikanmu.
Jangan tanyakan sampai kapan aku akan pergi menjelajah seperti ini,karena aku takkan memberimu jawaban atas tanyamu.biarkan waktu yang kan memberimu kepastian dari ragumu padaku. Ayah terimakasih untuk segalanya sampai hari kemarin, hari ini izinkan aku melangkah jauh bukan karena aku membencimu aku hanya kecewa denganmu, kecewa dengan sifat tempramen yang kau miliki meski tak bisa ku pungkiri bahwa 80% prestasi yang ku raih tak lepas dari didikanmu. Ayah andai kau tau aku sungguh sangat menyayangimu,tidakkah kau tau?ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya dan kau adalah gambaran masa depan dari pasangan hidup anakmu,kasih sayangmu,penjagaanmu, dan juga amarahmu adalah gambaran yang pertama kali terbayang dari sosok lelaki yang ku kenali.
Maafkan aku jika aku membuatmu kecewa dengan perlakuanku,aku keras kepala dan egois dengan diriku sendiri tapi sungguh aku tak sedikitpun punya niat untuk mengecewakanmu apalagi melukai hatimu. Biarkan aku sendiri dulu merenungi segalanya hingga aku berani mengambil keputusan bahwa akulah yang salah dengan sikap kecewa dan baperanku ini. Andai kau tahu ayah aku depresi dengan segala tekanan yang kau lakukan padaku,aku sesak dengan keterkungkungan yang aku terima ayah, aku bak merpati dalam sangkar emas. Tak bisa melakukan apa-apa sedangkan di luar sana ada banyak mimpi yang harus aku wujudkan untuk menjadi kenyataan, maaf dan beribu maaf hari ini aku pergi membawa berjuta harapan dan mimpi dalam genggamanku.
Teruntuk ibu yang teramat aku sayangi, hapuslah derai air matamu meski ku tahu lukamu dalam untukku luka jauh dari anak gadis satu-satunya tapi aku tak ingin bertahan pada keadaan yang akan membuatku mati perlahan, terbunuh dengan luka dan duka yang ku pendam sendiri. Ibuku perempuan terhebatku kaulah perempuan tersabar yang pernah ku temui sampai detik ini, ingatlah selalu dalam setiap hembusan nafasku ada namamu yang selalu aku jadikan kekuatan dalam menjalani hari-hariku tanpa kalian saat ini.
Izinkan aku menjadi perempuan yang tangguh dan siap menerima segala ujian darinya dengan hati yang lapang dan tetap tegar meski badai datang silih berganti.
Sepuncuk surat untuk ayah dan bunda, aku lah sepasang sepatu tanpa kaki
Ayu Andira (Bidang PIP IPM Gowa 2018-2020)


