Curahan Hati Seorang Pelajar
Pelajar adalah sebutan bagi seorang remaja yang masih
menjalani proses pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai pada perguruan
tinggi. Menjadi seorang pelajar adalah hal yang sangat menyenangkan karena bisa
mengembangkan potensi minat/bakat sesuai apa yang diinginkan pelajar untuk
menuju kepada kualitas keseharian yang lebih baik.
Persoalan pendidikan itu mesti. Menjalani pendidikan yang
formal yaitu dari Sekolah Dasar sampai tingkat Universitas adalah suatu
keharusan. Tetapi dalam mengembangkan bakat dan minat adalah kembali pada
individu setiap pelajar, yaitu masuk ekstrakulikuler/organisasi, mau dari
olahraga, seni, sastra ataupun dakwah dll. Sangat baik bila menyeimbang antara
pendidikan formal dengan ekstrakulikuler.
Terkadang sebagai pelajar yang masih dikatakan minim
pengalaman, adalah hal yang membingungkan antara masuk organisasi atau tidak.
Hal yang sebaliknya terjadi adalah ketika seorang pelajar yang punya kesadaran
untuk mengembangkan potensi dan bakatnya tentu harus dengan jalan organisasi.
Penulis sendiri punya minat di bidang dakwah, apalagi
dalam lingkungan pelajar, baik itu baik itu Ikatan Pelajar Muhammadiyah ataupun
lembaga dakwah dari berbagai sekolah, secara umumnya dikenal Lembaga Dakwah
Sekolah. Memilih bidang dakwah adalah salah satu pengembangan potensi untuk
meningkatkan kepekaan sosial akan hal-hal yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat dalam sudut pandang agama, seperti maraknya pencurian, perselisihan
terjadi dimana-mana, khususnya kenakalan remaja, yang penulis sering jumpai
adalah konsumsi obat-obatan terlarang di kalangan pelajar.
Maka aktivis dakwah di kalangan pelajar harus mengambil
peran untuk mensosialisasikan pentingnya mengasah nilai spiritual(ibadah) dan
juga berkunjung kepada masyarakat untuk senantiasa menyampaikan syariat dan
tidak lupa membantu orang-orang yang kurang mampu. Demi menghindari pergaulan
bebas yang mengarah kepada kenakalan remaja serta perbuatan tidak terpuji
lainnya.
Yang menjadi persoalan adalah penulis(kadang-kadang
pembaca juga) merasa risih dengan aturan orang tua, dewan pengajar serta
pembimbing yang malah mengurangi aktivitas dalam kegiatan organisasi dimana
pelajar punya kesempatan sangat lebar untuk mengembangkan potensi bakatnya,
terkhusus di bidang dakwah yang mengasah kemampuan pelajar dalam meningkatkan
kepekaan sosial yang lebih punya manfaat terhadap orang banyak. Lebih banyak
diajarkan untuk hanya fokus pada pendidikan formal yang membuat para pelajar kaku
dalam menghadapi permasalahan sosial dan membuat sifat lebih egois yang hanya mementingkan
prestasi untuk jadi bahan gengsi.
Bukankah dalam hadits Nabi SAW. Menjelaskan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia
lainnya”
(HR Ahmad dan Thabrani)
Setidaknya ini adalah tulisan agar bagaimana para pelajar
menyadari jikalaupun bisa meningkatkan aktivitasnya dalam lingkungan dakwah
kalaupun perlu menyeimbangkan waktu antara pendidikan formal beserta
ekstrakulikuler. Dan sekaligus melihat minat para pelajar dalam organisasi
terkhususnya dalam bidang dakwah menurun akibat perkembangan teknologi yang
kian menyibukkan para remaja dalam kesenangan individu (main game dll) serta
kekhawtiran para orang tua dan dewan guru dalam dalam mengawasi proses
belajarnya.
Tentu langkah yang harus pelajar ambil adalah bagaimana
ekstrakulikuler mengembangkan potensi belajar di sekolah agar tercipta
kesembangan yang saling bermanfaat satu sama lain.
Sekian, semoga kita bisa mengambil pelajaran di dalamnya,
salam pelajar.
Nun, walqalami wamaa yasturun
Salam.
Akbar Agung (Kabid KDI PC IPM Pallangga)


