Belajar Hidup Dari Sang Teladan
Belajar
Hidup Dari Sang Teladan
Perjalanan
hidup sang idola seluruh manusia yang beragamakan Islam dan bagi masyarakat
dunia pada umumnya, Kehidupan beliau
bagaikan laut luas yang membentang yang memberikan ketenangan ketika
kedua bola mata memandangnya hingga tak ada hati yang jenuh untuk
memandanginya, beliaulah Abal Qasim yang dilahirkan di tengah-tengah keluarga
Bani hasyim di tanah mekah pada senin pagi tanggal 22 April 571 M, Bertepatan
dengan permulaan tahun dari peristiwa gajah yaitu tanggal 9 Rabi’ul awwal. Yang
kelahirannya bertepatan dengan runtuhnya sepuluh balkon istana Kisra, dan padamnya api yang biasa di
sembah oleh kaum Majusi yang di barengi dengan runtuhnya beberapa gereja di
sekitar Buhairah. Sehingga peristiwa-peristiwa ini menjadi bukti kerasulan sang
pembawa kedamaian di tengah-tengah hancurnya peradaban dan moral.
Siapapun
yang mempertajam pandangannya tentang perjalanan hidup beliau, akan terpesona
melihat kemanusiaan yang begitu indah, tiada seorangpun yang menyerupai beliau
dalam kesabaran menghadapai cobaan, tekanan, hinaan hingga perlakuan keras yang
datang dari orang di sekelilingnya bahkan sampai keluarganya, akan tetapi dengan keteduhan dan kerelaan hati beliau
tidak mencela ataupun menghina melainkan tetap mengeluarkan kata-kata nan indah
yang membuat siapa yang berlaku keras kepadanya menjadi lemah lembut dan pada
akhirnya banyak dari mereka yang memilih jalan keselamatan.
Beliau
adala sosok pemimpin yang teguh dengan pendirian dan senantiasa dengan prinsip-pinsip
kebenaran yang di sampaikan melalui Sabda-sabdanya, Masih sangat teringat
takkala golongan kaum Quraisy menghampiri pamannya untuk yang kedua kalinya dengan
memberi penawaran kepada Abu Thalib agar menghentikan dakwah anak saudaranya.
Hingga dengan berat hati Sang Paman
berkata kepadanya “Hentikanlah
demi diriku dan dirimu sendiri, Janganlah engkau membebaniku sesuatu di luar
kemampuanku” akibatnya perkataan ini membuat sang pembawa kedamaian mengira
sang paman akan menelantarkan dan sudah tidak mau lagi mendukungnya, Akan
tetapi dengan teguhnya dengan prinsip yang telah di tekadkan dalam hati keluarlah
kata-kata mulia yang menggetarkan hati “ wahai
Pamanku, demi Allah andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan
bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan agama ini, hingga Allah
memenangkannya atau aku ikut binasa karenanya, Maka aku tidak akan
meninggalkannya”
Kisah
yang hampir serupa yang membuktikan ketenangan
dalam menyampaikn risalah yang di bawanya takkala beliau menyampaikan
pesan-pesan yang di sampaikan malaikat jibril kepadanya di salah satu bukit yang kedatangan beliau tidak sesuai dengan
harapan yang di inginkan. Beliau SAW
datang dengan membawa harapan namun sayang hanya cekaman yang begitu keras yang di dapatkan , bahkan
salah satu kisah menyebutkan sang penerima wahyu di lempari batu hingga
kepalanya terluka lalu sang malaikat datang menghampirinya kemudian bertutur
kepada sang Nabi “Apakah engkau mau aku
timpakan dua gunung kepada mereka (Penduduk Thaif)jika itu yan engkau inginkan
maka kami akan lakukan. Namun,beliau tidak menghendakinya, bahkan kembali
mengeluarkan kata-kata yang penuh makna dengan mengharapkan Allah akan
menciptakan generasi bertakwa yang lahir dari tulang rusuk masyarakat Thaif
(HR. Al-Bukhari 3.231).
Semoga sepenggal kisah perjalanan hidup ini
mampu menjadi penyemangat bagi mereka yang telah mengikhlaskan dirinya berada
dalam dunia dakwah, tetap menjadi penyeru meskipun terkadang tersakititi tetap
menyampaikan kebenaran meskipun terkadang terabaikan. Karena kesakitan,suka duka,
dan segala bentuk rintangan akan berhenti di kehidupan dunia dan ketenangan bersama
dengan kesejahteraan akan mengantarkan hingga berada di dalam kehidupan abadi
yang jauh lebih nyaman dan menjanjikan.
Al Musyawwir (KABID
PIP IPM Gowa 2018-2020)
Nuun
Wal Qalami Wamaa Yasthuruun

